Halaman 1 — Ketika Adab Lebih Tinggi dari Ilmu Fondasi Peradaban Islam
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sejarah Islam mencatat sesuatu yang luar biasa: para ulama besar tidak pernah memulai perjalanan ilmiahnya dengan hafalan, analisis, atau logika — mereka memulai semuanya dengan adab. Dan faktanya, tidak ada peradaban mana pun di dunia yang mengagungkan etika sebelum ilmu setinggi peradaban Islam. Ulama dahulu memahami bahwa ilmu tanpa adab akan melahirkan kesombongan, kekerasan, dan kehancuran; sedangkan adab tanpa ilmu tetap akan membawa kebaikan dan ketentraman bagi manusia. Karena itu, sebelum seorang murid membuka kitab, ia membuka hatinya. Sebelum ia duduk belajar, ia duduk merendahkan diri.
Imam Malik pernah berkata kepada muridnya: “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Perkataan ini bukan sekadar nasihat; ia adalah rumus lahirnya generasi emas Islam. Generasi yang mencetak ilmuwan, filsuf, ahli matematika, ahli kedokteran, ahli astronomi, hingga para sufi dan pemimpin besar. Semua dimulai dari satu pondasi: menata hati sebelum menata akal.
Dalam ilmu pendidikan modern, kita menyebutnya “mental readiness”— kondisi psikologis dan spiritual yang matang sebelum proses belajar dimulai. Ulama terdahulu sudah mengerti ribuan tahun sebelum teori itu dirumuskan. Mereka tahu bahwa murid yang penuh adab akan lebih mudah menerima kebenaran, lebih tahan menghadapi kesulitan, dan lebih tulus mencari hikmah. Adab adalah jendela tempat cahaya ilmu masuk, dan ketika jendelanya kotor, cahaya itu tidak akan pernah bisa menembus hati.
Yarfa‘illāhu alladzīna āmanū minkum walladzīna ūtul-‘ilma darajāt.
Artinya: “Allah meninggikan derajat orang-orang beriman di antara kalian, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah [58]: 11)
Ayat ini menunjukkan urutannya: iman (yang berisi adab) dulu, baru ilmu. Tidak heran peradaban Islam lebih kuat dibanding peradaban lain pada masanya — mereka membangun manusia terlebih dahulu, bukan pikirannya saja.
Innamā bu‘itstu liutammima makārimal-akhlāq.
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Nabi sendiri menegaskan bahwa misi utama beliau bukan hanya ilmu, bukan hanya hukum, bukan hanya ibadah — tetapi akhlak. Dan akhlak adalah puncak tertinggi dari adab. Maka tidak mungkin seorang penuntut ilmu mencapai kemuliaan jika adabnya belum ia tata, dan tidak mungkin ilmu menjadi cahaya jika ia tidak dipikul dengan hati yang lembut dan tunduk kepada Allah.
Halaman berikut (2/10):
“Mengapa Para Ulama Selalu Mengajarkan Adab Sebelum Ilmu?”
Kita akan membahas sejarah ulama-ulama besar dan bagaimana mereka menempatkan adab sebagai pintu pertama menuju cahaya ilmu.