Halaman 1 — Menanam Rasa Hormat Sebelum Mengajarkan Tata Krama
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Islam Parenting bukan sekadar cara mendidik anak — tetapi cara membentuk hati, karakter, dan masa depan mereka. Dalam Islam, pendidikan akhlak tidak dimulai ketika anak sudah mengerti banyak hal, melainkan sejak kecil melalui kebiasaan harian yang konsisten. Setiap ucapan, gerak tubuh, dan respons orang tua adalah “sekolah pertama” yang ditonton anak setiap hari. Karena itu, Seri Adab ini disusun untuk membantu orang tua membangun pondasi adab sejak dini — bukan semata agar anak menjadi pintar, tetapi agar mereka tumbuh berjiwa kuat, lembut, beradab, dan siap menghadapi kehidupan.
Artikel ini merupakan bagian dari rangkaian lengkap Adab Harian yang meliputi:
• Seri A: Adab Berpakaian
• Seri B: Adab Berbicara
• Seri C: Adab Belajar
• Seri D: Adab Makan dan Minum
• Seri E: Adab Berteman
• Seri F: Adab Tidur
• Seri G: Adab Terhadap Orang Lebih Tua
Pada seri kali ini, kita fokus pada Adab Terhadap Orang Lebih Tua — salah satu fondasi akhlak yang sering terabaikan, padahal menjadi indikator paling jujur tentang kecerdasan emosional dan spiritual seorang anak.
Wa qaḍā rabbuka allā ta‘budū illā iyyāh, wa bil-wālidayni iḥsānā.
Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 23)
Perintah ini bukan sekadar ajaran moral — tapi struktur pendidikan akhlak. Allah mendahulukan tauhid, lalu menghubungkannya langsung dengan adab kepada orang tua. Ini menunjukkan bahwa seorang anak tidak mungkin menjadi pribadi bertauhid secara utuh bila ia tidak belajar menghormati, berterima kasih, dan berbuat baik kepada mereka yang telah membesarkan dan mencintainya tanpa syarat.
Halaman berikut (2/10):
“Mengapa Adab kepada Orang Tua Menjadi Fondasi Pendidikan Anak?”
Kita akan membahas alasan ilmiah, sosial, dan spiritual yang membuat adab ini menjadi pilar utama pembentukan karakter.