Halaman 1 — Ketika Alat Disalahpahami AI Bukan Panggung Gaya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad, wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Di banyak tempat hari ini, AI diperlakukan seperti mainan baru. Dicoba sebentar, dipamerkan sebentar, lalu dibicarakan seolah-olah siapa pun yang menggunakannya otomatis menjadi manusia masa depan. Padahal realitasnya jauh lebih sederhana dan lebih keras: AI tidak membuat siapa pun hebat. Cara manusialah yang menentukan apakah AI menjadi alat kerja, atau sekadar properti gaya hidup digital.
Fenomena “sok canggih” ini muncul ketika teknologi dipisahkan dari tujuan. AI digunakan tanpa arah jelas, tanpa kebutuhan nyata, tanpa pemahaman konteks kerja. Hasilnya bukan produktivitas, melainkan kelelahan baru: mencoba banyak hal, tapi tidak benar-benar menyelesaikan apa pun.
Dalam sejarah manusia, setiap alat besar selalu melalui fase yang sama. Ketika mesin uap ditemukan, banyak orang hanya terpukau pada bunyinya. Ketika listrik hadir, ia lebih dulu jadi tontonan sebelum benar-benar menjadi tenaga industri. AI hari ini sedang berada di fase yang serupa: ramai dibicarakan, sedikit dipahami, dan sering disalahgunakan.
Masalahnya bukan pada AI. Masalahnya ada pada mentalitas penggunanya. Alat kerja menuntut kedewasaan tujuan: apa yang ingin diselesaikan, proses apa yang ingin dipercepat, dan keputusan apa yang ingin dipertajam. Tanpa itu semua, AI hanya akan mempercepat kebingungan, bukan mempercepat hasil.
Islam sejak awal mengajarkan bahwa nilai suatu alat ditentukan oleh niat dan penggunaannya. Allah berfirman:
Wa qul‘malū fasayarallāhu ‘amalakum.
Artinya: “Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu.” (QS. At-Tawbah [9]: 105)
Ayat ini tidak berbicara tentang alat tertentu, tetapi tentang makna kerja itu sendiri. Yang dinilai bukan kecanggihannya, melainkan keseriusan amal. AI yang digunakan tanpa kesungguhan tetaplah kerja kosong, meski tampak modern di permukaan.
Di sinilah garis pemisah itu muncul. Orang yang menjadikan AI sebagai alat kerja berbicara tentang hasil: waktu yang dihemat, keputusan yang lebih tajam, energi yang dialihkan ke hal strategis. Sementara mereka yang menjadikannya mainan sibuk berbicara tentang fitur, prompt viral, dan pembuktian bahwa dirinya “update”.
Artikel ini tidak ditulis untuk menolak AI. Justru sebaliknya: untuk menempatkannya kembali di posisi yang benar. Bukan sebagai simbol kecanggihan, tetapi sebagai alat kerja serius bagi mereka yang memang ingin menyelesaikan sesuatu dalam hidupnya.
Halaman berikut (2/10):
“AI dan Mentalitas Tukang: Bekerja untuk Menyelesaikan, Bukan Pamer Kecanggihan.”
Kita akan membahas perbedaan mendasar
antara mentalitas pekerja sungguhan
dan mentalitas pencoba teknologi.