Halaman 1 — Euforia Teknologi dan Realitas Kesiapan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Setiap kali teknologi baru naik daun, satu pola selalu berulang. Timeline penuh tutorial, obrolan dipenuhi istilah teknis, dan banyak orang merasa “kalau tidak ikut sekarang, akan tertinggal.” AI hari ini berada di titik itu. Ia dibicarakan di mana-mana, dipuji sebagai jalan pintas, dan dianggap sebagai solusi instan untuk semua masalah ekonomi.
Namun realitas lapangan sering berkata lain. Di tengah hiruk-pikuk hype, hanya sebagian kecil yang benar-benar merasakan dampak finansial nyata. Bukan karena AI tidak berguna, tetapi karena kesiapan manusia jauh lebih menentukan daripada kecanggihan alat. Teknologi tidak pernah membagi hasil secara merata; ia hanya mempercepat siapa yang sudah siap.
Banyak yang sibuk bertanya “AI bisa apa?” tetapi lupa bertanya “saya ini siap di bagian mana?” Siap secara mental, siap secara keterampilan, dan siap secara sistem kerja. Tanpa kesiapan itu, AI hanya menjadi hiburan intelektual, bukan alat produktif.
Dalam pendekatan penelitian lapangan, terlihat bahwa mereka yang mendapat cuan dari gelombang AI bukan yang paling cepat ikut, melainkan yang paling rapi persiapannya. Mereka sudah punya kebiasaan kerja, sudah paham nilai yang dijual, dan tahu siapa yang mau membayar. AI datang bukan sebagai penyelamat, tetapi sebagai penguat.
Di sisi lain, mereka yang hanya mengejar hype sering terjebak pada kebingungan. Ganti-ganti tools, lompat dari satu metode ke metode lain, tanpa sempat membangun fondasi. Energi habis, hasil tidak pernah matang. Di titik ini, AI justru terasa melelahkan.
Wa a‘iddū lahum mā istaṭa‘tum min quwwah.
Artinya: “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (QS. Al-Anfāl [8]: 60)
Ayat ini berbicara tentang prinsip kesiapan. Bukan menunggu sempurna, tetapi menyiapkan apa yang mampu. Dalam konteks AI, kesiapan bukan soal perangkat mahal, melainkan kesiapan berpikir, kesiapan belajar, dan kesiapan mengeksekusi secara konsisten. Teknologi hanyalah bagian kecil dari persamaan besar bernama rezeki.
Maka artikel ini tidak akan membahas sensasi atau janji cepat. Fokusnya adalah membedah apa saja yang membuat seseorang “siap” ketika AI datang. Karena dalam setiap gelombang teknologi, cuan selalu mengalir ke mereka yang tenang, terstruktur, dan tidak mudah goyah oleh hype.
Halaman berikut (2/10):
“Kesiapan Mental di Tengah Ledakan AI.”
Kita akan membahas
fondasi sikap dan pola pikir
sebelum bicara alat dan strategi.