Halaman 1 — Saat Emosi Menjadi Guru Bukan Musuh untuk Dibungkam
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Banyak orang tua ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang lembut, sabar, dan penuh akhlak. Namun tanpa disadari, sebagian besar dari kita mendidik akhlak dengan cara yang justru mematikan emosi. Kita memarahi ketika anak marah, kita menyuruh diam ketika anak menangis, kita menegur ketika anak takut, dan kita meminta “jangan cemburu, jangan kesal, jangan nangis, jangan sedih” seolah-olah emosi itu dosa. Akibatnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang pintar menyembunyikan perasaan — bukan mengelolanya. Ia tidak belajar menjadi tegar, ia hanya belajar membungkam hatinya. Dan luka yang disembunyikan tidak pernah hilang — ia berubah menjadi karakter.
Anak baik bukan anak yang tidak pernah marah. Anak baik adalah anak yang tahu kapan marah, mengapa marah, dan memilih untuk tidak menyakiti dirinya atau orang lain saat marah. Itulah inti dari kebajikan emosional. Sayangnya, sebagian besar dari kita dulu dibesarkan dengan konsep sebaliknya. Kita dilarang mengekspresikan perasaan karena dianggap “tidak sopan”, “banyak drama”, atau “memalukan”. Kita dipuji ketika diam, bukan ketika jujur. Kita dihargai karena patuh, bukan karena berani mengungkapkan apa yang kita rasakan. Dari sinilah muncul generasi dewasa yang pandai terlihat kuat di luar tetapi rapuh di dalam — karena sejak kecil mereka tidak diberi izin untuk merasakan.
Ketika anak berkata “Aku marah”, banyak orang tua langsung menekan emosinya. Padahal itu adalah momen emas pendidikan karakter. Anak yang sedang marah bukan butuh diminta diam — ia butuh dituntun untuk memahami perasaannya. Ketika anak menangis, itu bukan kelemahan — itu cara tubuh memproses stres. Ketika anak takut, itu bukan drama — itu sinyal otak bahwa ia butuh rasa aman. Ketika anak cemburu, bukan berarti ia jahat — ia hanya ingin dihargai kehadirannya. Kuncinya bukan memusnahkan emosi, tetapi membuat anak sadar bahwa ia boleh merasakan apa pun, namun ia bertanggung jawab atas tindakannya. Di sinilah bedanya moral dan represi.
Dalam makna salah satu ajaran agama, manusia terbaik bukanlah yang tidak pernah marah, tetapi yang mampu menahan amarahnya. Artinya jelas: bukan menghapus amarah, tetapi mengelolanya. Dan hanya orang yang memiliki hubungan sehat dengan emosinya sejak kecil yang mampu melakukan itu. Maka pendidikan emosi bukan sekadar teknik parenting — ini fondasi akhlak. Anak yang memahami emosinya akan mudah sabar, mudah meminta maaf, mudah empati, dan mudah memaafkan. Sebaliknya, anak yang ditekan emosinya akan tumbuh menyimpan dendam, iri, gengsi, dan kebutuhan pembuktian yang tak pernah selesai.
Halaman berikut (2/10): “Emosi Bukan Musuh — Mereka Kompas Perasaan Anak.”
Kita akan membahas mengapa emosi bukan untuk dimatikan, tetapi dipahami — dan bagaimana emosi memandu perkembangan karakter anak sejak dini.