Halaman 1 — Karakter Anak Bukan Dibentuk Lidah Tapi Perilaku Orang Tua
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala aalihi wa sahbihi ajma'in
Setiap orang tua mendambakan anak yang berakhlak mulia. Tapi paradoks besar terjadi di banyak rumah: orang tua ingin anak sopan, namun lidah orang tua kasar; ingin anak jujur, tapi orang tua berbohong ringan di depan anak; ingin anak tidak egois, tetapi orang tua tidak memberi contoh berbagi. Kita menuntut kesempurnaan dari anak padahal yang mereka lihat di hadapan mereka adalah diri kita — bukan nasihat kita. Anak tidak tumbuh dari apa yang kita ucapkan, tetapi dari apa yang kita lakukan berulang-ulang di hadapan mereka.
Penelitian perkembangan anak usia 2–10 tahun menunjukkan bahwa pusat karakter terbentuk bukan melalui ceramah verbal, tetapi melalui observasi. Anak adalah peniru alamiah. Mereka belum mampu menyaring teori perilaku, tetapi sangat tajam mengamati sikap orang tua. Ketika kita berkata “berbuat baiklah!”, mereka tidak menyimpannya sebagai perintah — mereka menunggu untuk melihat apakah kita benar-benar melakukannya. Jika sesuai, mereka menyalin. Jika tidak, mereka tetap menyalin — tapi yang disalin adalah tindakan kita, bukan kata-kata kita.
Karena itu, tidak sedikit anak yang tumbuh dengan karakter bermasalah bukan karena mereka tidak diajarkan kebaikan, tetapi karena kebaikan hanya berhenti di ucapan. Mereka bingung: di sekolah diajarkan sopan santun, tapi di rumah orang tua berteriak. Mereka diajarkan untuk jujur, tapi melihat orang dewasa memanipulasi demi kenyamanan. Mereka diminta mengontrol emosi, tapi orang tua kehilangan kesabaran setiap hari. Anak belajar dari kenyataan — bukan dari teori moral.
Dalam Al-Qur’an, ada peringatan tegas yang sangat relevan dengan pola pendidikan anak: “Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff 61:2–3). Ayat ini bukan sekadar teguran bagi orang dewasa, tetapi pedoman bagi orang tua: jangan menyuruh anak menjadi baik sementara kita belum mencontohkannya di depan mereka. Anak adalah amanah, dan amanah itu memerlukan tanggung jawab perilaku dari orang tuanya.
Begitu pula dengan hadits yang masyhur: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.” Pemimpin dalam konteks keluarga bukan hanya penyedia nafkah, bukan hanya pemberi aturan, tapi teladan. Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna — tetapi mereka membutuhkan orang tua yang berusaha memperbaiki diri setiap hari. Kebaikan kecil yang dilakukan orang tua, meski terlihat sederhana, adalah pondasi kepribadian anak di masa depan.
Halaman berikut (2/10): “Memori Perilaku Orang Tua Masuk ke Jiwa Anak.”
Kita akan membahas bagaimana tindakan-tindakan kecil orang tua sehari-hari terekam dalam otak anak sebagai pola moral jangka panjang.