Anti Jadwal Tapi Mau Hidup Beres? Ini Caranya

Halaman 1 — Ketika Jadwal Menjadi Beban Dan Hidup Terasa Semrawut


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.

Tidak semua orang nyaman hidup dengan jadwal yang ketat. Bagi sebagian orang, kalender penuh justru terasa menyesakkan. Jam demi jam yang dibagi rapi sering kali membuat hidup terasa kaku dan kehilangan spontanitas. Maka tidak heran jika banyak orang secara sadar atau tidak memilih menjauh dari jadwal—bahkan merasa alergi terhadapnya.

Masalahnya muncul ketika sikap anti jadwal ini tidak diimbangi dengan sistem lain. Hari berjalan mengikuti suasana hati, tugas ditangani secara reaktif, dan keputusan dibuat berdasarkan apa yang terasa mendesak saat itu. Di akhir hari, kelelahan tetap datang, tetapi ketenangan tidak pernah benar-benar hadir. Hidup terasa bebas, namun diam-diam berantakan.

Fenomena ini banyak terjadi pada individu kreatif, pekerja mandiri, atau mereka yang tidak terikat jam kantor. Mereka tidak malas, tetapi kesulitan menemukan bentuk keteraturan yang tidak mematikan kebebasan. Jadwal dianggap musuh kreativitas, padahal yang sebenarnya dibutuhkan bukanlah jadwal kaku, melainkan arah yang jelas.

Dalam kajian perilaku, manusia yang menolak struktur sering kali bukan menolak keteraturan, tetapi menolak tekanan. Jadwal dipersepsikan sebagai alat kontrol, bukan alat bantu. Ketika persepsi ini tidak disadari, seseorang akan terus berlari dari sistem, tanpa pernah benar-benar membangun sistemnya sendiri.

Islam sendiri tidak mengajarkan kekacauan dalam menjalani hidup. Allah berfirman:

Inna Allāha yuḥibbul-ladzīna yuqātilūna fī sabīlihī ṣaffan ka-annahum bunyānun marṣūṣ.

Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Aṣ-Ṣaff [61]: 4)

Ayat ini menunjukkan bahwa keteraturan bukanlah lawan dari kebebasan, melainkan fondasi kekokohan. Bangunan yang kuat bukan dibangun secara acak, tetapi tersusun dengan rapi sesuai fungsinya. Demikian pula hidup manusia: tanpa keteraturan yang disadari, kebebasan justru berubah menjadi kekacauan.

Pertanyaannya kemudian bukan apakah kita perlu jadwal atau tidak, melainkan jenis keteraturan seperti apa yang sesuai dengan diri kita. Apakah mungkin hidup tetap beres tanpa terikat jadwal kaku? Jawabannya: mungkin, asalkan ada sistem lain yang menggantikannya.

Halaman ini menjadi titik awal untuk memahami bahwa anti jadwal bukan berarti anti keteraturan. Justru di sinilah perjalanan dimulai: mencari cara hidup yang terarah, tanpa harus mengorbankan fleksibilitas dan kebebasan batin.


🌿 Kebebasan tanpa arah bukanlah ketenangan, melainkan kekacauan yang tertunda.

Halaman berikut (2/10): “Mengapa Banyak Orang Membenci Jadwal?”
Kita akan membongkar alasan psikologis dan pengalaman hidup yang membuat jadwal sering dipersepsikan sebagai tekanan, bukan penolong.