Halaman 1 — Ilusi Puncak Mengapa Kita Salah Memahami Bahagia
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Kita tumbuh dengan satu gambaran yang sama tentang bahagia: ia seperti puncak gunung. Tinggi, megah, jauh, dan hanya bisa diraih setelah perjalanan panjang. Kita berkata, “Nanti kalau sudah sukses, aku bahagia.” “Nanti kalau sudah punya ini dan itu, aku tenang.” “Nanti kalau semua target tercapai, aku puas.”
Tanpa sadar, kita memindahkan kebahagiaan ke masa depan. Ia menjadi hadiah akhir, bukan teman perjalanan. Kita mendaki dengan wajah tegang, melewati hari demi hari dengan rasa tertekan, sambil berharap di puncak nanti semua rasa lelah akan terbayar.
Tapi ada satu pertanyaan yang jarang kita tanyakan: bagaimana jika bahagia bukan berada di puncak, melainkan dalam cara kita melangkah?
Banyak orang yang berhasil mencapai “puncak” versi mereka — karier mapan, penghasilan stabil, pengakuan sosial — tetapi tetap merasa kosong. Mengapa? Karena selama perjalanan, mereka tidak pernah belajar menikmati langkah.
Fa inna ma‘al-‘usri yusrā. Inna ma‘al-‘usri yusrā.
Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirāḥ [94]: 5–6)
Ayat ini tidak menunggu puncak untuk berbicara tentang kemudahan. Ia hadir di tengah proses, di dalam perjalanan, bahkan di saat-saat yang terasa berat.
Dalam banyak penelitian psikologi positif, kebahagiaan yang stabil justru lahir dari aktivitas sehari-hari: rasa syukur kecil, hubungan yang hangat, pekerjaan yang bermakna, serta kemampuan hadir penuh dalam momen sekarang. Bukan dari satu momen spektakuler di masa depan.
Masalahnya, kita terlalu fokus pada hasil akhir. Kita mendaki sambil mengeluh. Kita belajar sambil membandingkan. Kita bekerja sambil menunggu selesai. Lalu ketika selesai, kita langsung mencari gunung berikutnya.
Jika pola ini tidak disadari, hidup akan selalu terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir.
Jadi mungkin yang perlu kita ubah bukan tujuan, tetapi cara menaikinya. Karena bisa jadi, bahagia tidak menunggu di atas sana. Ia hadir di setiap anak tangga — jika kita mau melihatnya.
Halaman berikut (2/10):
“Kenapa Kita Selalu Menunda Bahagia?”
Kita akan membedah pola pikir yang membuat kebahagiaan selalu terasa jauh.