Halaman 1 — Ilusi Sorotan Sesaat Antara Viral dan Nilai yang Bertahan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad.
Di era media sosial, kebahagiaan sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang cepat dan terlihat. Satu momen viral, satu unggahan yang ramai respons, satu pencapaian yang disorot banyak orang — lalu muncul perasaan bangga dan euforia. Namun, apakah itu benar-benar bahagia? Ataukah hanya sensasi sesaat yang memudar ketika sorotan berpindah ke orang lain?
Fenomena ini dapat diamati secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak individu merasa sangat senang ketika mendapat pengakuan publik, tetapi beberapa hari kemudian kembali merasakan kekosongan. Riset psikologi positif menunjukkan bahwa kebahagiaan berbasis validasi eksternal bersifat sementara. Ia tergantung pada reaksi orang lain, bukan pada stabilitas batin.
Di sisi lain, kebahagiaan yang lahir dari konsistensi memiliki sifat berbeda. Ia tidak selalu terlihat spektakuler. Tidak selalu mendapat tepuk tangan. Namun ia stabil, bertumbuh, dan membangun fondasi batin yang kuat. Konsistensi dalam kebaikan, dalam ibadah, dalam disiplin diri, perlahan membentuk rasa damai yang tidak mudah goyah.
Kebahagiaan bukanlah hasil satu momen besar, melainkan akumulasi kebiasaan kecil yang dijaga setiap hari. Ketika seseorang bangun pagi dengan niat yang lurus, bekerja dengan sungguh-sungguh, menjaga lisan, dan menutup hari dengan syukur — di situlah kebahagiaan yang hakiki tumbuh. Ia mungkin tidak viral, tetapi ia kokoh.
Inna akramakum ‘indallāhi atqākum.
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 13)
Ayat ini mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh sorotan manusia, melainkan oleh kualitas konsistensi dalam ketakwaan. Kemuliaan bukan hasil sensasi, tetapi hasil keteguhan. Jika kemuliaan saja diukur dari konsistensi, maka kebahagiaan pun mengikuti prinsip yang sama.
Banyak orang mengejar puncak tanpa menyiapkan fondasi. Mereka ingin cepat dikenal, cepat berhasil, cepat dipuji. Namun kebahagiaan yang bergantung pada kecepatan akan rapuh. Sebaliknya, kebahagiaan yang dibangun perlahan melalui konsistensi justru lebih tahan lama.
Maka pertanyaannya sederhana namun mendalam: apakah kita sedang mengejar viralitas, atau sedang membangun kebahagiaan yang stabil? Apakah kita ingin terlihat bahagia di depan orang lain, atau benar-benar merasakannya dalam hati?
Artikel ini akan menelusuri makna kebahagiaan dari perspektif ilmiah dan spiritual, serta membandingkan antara sensasi sesaat dan konsistensi jangka panjang. Sebab bahagia sejati bukanlah ledakan euforia, melainkan ketenangan yang terjaga.
Halaman berikut (2/10): “Psikologi Euforia dan Adaptasi Kebahagiaan.”
Kita akan membahas bagaimana otak manusia merespons sensasi viral dan mengapa efeknya cepat memudar.