Bahagia Itu Sederhana, Egomu yang Ribet

Halaman 1 — Mengurai Keruwetan Diri Ketika Ego Lebih Keras dari Nurani


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Bahagia itu sebenarnya tidak serumit yang kita kira. Ia tidak membutuhkan validasi massal, tidak butuh pengakuan panggung, tidak butuh tepuk tangan panjang. Namun mengapa banyak orang merasa hidupnya berat, pikirannya kusut, dan hatinya tidak pernah benar-benar tenang? Dalam kajian psikologi modern, khususnya dalam pendekatan self-concept dan ego-identity, ditemukan bahwa sebagian besar ketidakbahagiaan bukan berasal dari realitas objektif, melainkan dari konstruksi diri yang terlalu kompleks. Ego menciptakan standar, membangun citra, dan menuntut pengakuan. Ketika realitas tidak sesuai dengan narasi ego, lahirlah frustrasi.

Ego bekerja secara halus. Ia tidak selalu muncul sebagai kesombongan terbuka. Kadang ia hadir sebagai keinginan untuk selalu benar, kebutuhan untuk selalu dihargai, atau dorongan untuk terlihat lebih unggul. Dalam penelitian lapangan mengenai konflik interpersonal, banyak perselisihan bukan terjadi karena masalah besar, tetapi karena ego yang tidak mau menurunkan posisi. Bahagia yang seharusnya sederhana menjadi rumit karena kita terlalu sibuk mempertahankan citra diri.

Dalam perspektif spiritual, ego yang berlebihan menjauhkan manusia dari ketenangan. Ketika hati terus menuntut pengakuan, ia sulit menerima keadaan. Padahal kebahagiaan sering hadir dalam penerimaan, bukan dalam penguasaan. Sederhana bukan berarti miskin ambisi, tetapi mampu menempatkan diri secara proporsional.

Wa lā tuṣa‘‘ir khaddaka lin-nāsi wa lā tamsyi fil-arḍi maraḥā. Innallāha lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr.

Artinya: “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqmān [31]: 18)

Ayat ini bukan sekadar larangan bersikap angkuh, tetapi peringatan tentang jebakan ego. Ketika ego memimpin, hati sulit merasa cukup. Ia selalu membandingkan, selalu menuntut, selalu merasa kurang dihargai. Padahal kebahagiaan sering kali hadir ketika perbandingan dihentikan.

Artikel ini menggunakan pendekatan kajian pustaka terhadap literatur psikologi ego dan refleksi spiritual tentang kesederhanaan batin. Tujuannya adalah membedah satu pertanyaan mendasar: apakah hidup benar-benar sulit, atau kita yang membuatnya sulit karena tidak mau berdamai dengan diri sendiri?

Bahagia itu sederhana — cukup merasa cukup, cukup menerima yang ada, cukup bersyukur atas yang dimiliki. Namun ego tidak suka kata “cukup”. Ia selalu ingin lebih tinggi, lebih dipuji, lebih diperhatikan. Di sinilah konflik dimulai. Bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena ego terlalu ribet.

🌿 Bahagia sering datang dalam bentuk sederhana. Ego yang berisiklah yang membuatnya terasa rumit.

Halaman berikut (2/10): “Struktur Ego dalam Psikologi dan Spiritualitas.”
Kita akan membedah bagaimana ego terbentuk dan mengapa ia sering menjadi penghalang ketenangan.