Halaman 1 — Lautan Informasi Ketika Banyak Tahu Tidak Membuat Paham
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Kita hidup di zaman ketika informasi tersedia tanpa henti. Setiap detik, berita mengalir, notifikasi berbunyi, dan opini saling bertabrakan. Anehnya, di tengah banjir informasi ini, kebingungan justru semakin meluas.
Banyak orang merasa tahu banyak hal, tetapi sulit menjelaskan satu hal secara utuh. Mereka hafal potongan fakta, judul berita, dan kutipan singkat, namun kehilangan kemampuan menyusun pemahaman yang runtut.
Fenomena ini sering disalahpahami. Kita mengira masalahnya adalah kurangnya informasi, padahal yang terjadi justru sebaliknya: terlalu banyak informasi tanpa proses pengolahan.
Informasi dan pengetahuan bukanlah hal yang sama. Informasi adalah bahan mentah. Pengetahuan adalah hasil olahan. Tanpa proses berpikir, memilah, dan menghubungkan, informasi hanya menumpuk.
Di media sosial, kita melihat contoh nyata setiap hari. Seseorang membaca satu unggahan, lalu merasa cukup untuk berpendapat. Pendapat tersebut terdengar yakin, tetapi rapuh ketika diuji.
Ya‘lamūna ẓāhiran minal-ḥayātid-dunyā wa hum ‘anil-ākhirati hum ghāfilūn.
Artinya: “Mereka hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedangkan tentang akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rūm [30]: 7)
Ayat ini menggambarkan pengetahuan yang dangkal— tahu permukaan, tetapi kehilangan kedalaman. Dalam konteks modern, ini mirip dengan orang yang tenggelam dalam arus informasi tanpa pernah mencapai pemahaman.
Masalahnya bukan sekadar salah paham, tetapi dampaknya pada keputusan hidup. Keputusan yang diambil dari informasi setengah matang sering berujung pada penyesalan.
Rubba ‘ālimin qātilahu ‘ilmuh.
Artinya: “Betapa banyak orang berilmu yang justru celaka karena ilmunya.” (Makna hikmah yang masyhur di kalangan ulama)
Ketika ilmu dipahami sebagai sekadar tumpukan informasi, ia bisa menjadi beban, bukan cahaya. Tanpa hikmah, pengetahuan kehilangan arah.
Artikel ini akan membahas mengapa banjir informasi tidak otomatis melahirkan pengetahuan. Kita akan menelusuri bagaimana cara memilah, mengolah, dan menata informasi agar berubah menjadi pemahaman yang benar-benar bermakna.
Halaman berikut (2/10):
“Perbedaan Informasi, Pengetahuan, dan Hikmah.”
Kita akan membedah perbedaan mendasar yang sering disamakan secara keliru.