Halaman 1 — Saat Anak Belajar Merasakan Orang Lain Awal Kebajikan dan Budi Pekerti
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Ada satu kualitas hati yang jauh lebih penting daripada prestasi akademik, kepintaran, atau bakat — yaitu kemampuan merasakan perasaan orang lain. Anak yang tumbuh dengan empati akan tumbuh menjadi manusia yang lembut, bijaksana, tidak mudah melukai, dan mampu membangun hubungan yang sehat sepanjang hidupnya. Sebaliknya, anak yang tidak memahami perasaan orang lain akan mudah menyakiti, meremehkan, memaksakan kehendak, sulit bekerja sama, dan sering kesulitan memiliki teman. Empati bukan sekadar sopan santun — ia adalah fondasi kebajikan.
Di usia 2–10 tahun, banyak anak belum memahami bahwa orang lain punya perasaan yang sama rumitnya dengan dirinya. Ketika mereka berebut mainan, marah, memukul, merengek, atau tidak mau berbagi, itu bukan karena mereka “nakal” — tetapi karena mereka belum bisa membayangkan apa yang dirasakan orang lain. Otak sosial anak masih berkembang, dan empati harus diasah — bukan diasumsikan. Orang tua sering hanya berkata “Kamu harus baik!” atau “Jangan pukul teman!” padahal anak tidak mengerti alasannya: ia tidak merasakan sudut pandang orang lain.
Sadar atau tidak, banyak orang dewasa pun tumbuh tanpa empati karena tidak pernah dilatih sejak kecil. Mereka pintar tetapi kasar, logis tetapi tidak berperasaan, sukses tetapi merusak. Rumah tangga hancur, pertemanan retak, hubungan kerja tidak sehat — bukan karena kurang skill, tetapi karena kurang empati. Maka ajarkan empati kepada anak bukan hanya demi mereka disukai orang lain, tetapi demi mereka menjadi manusia yang baik bagi diri sendiri dan orang lain.
Artinya: “Barang siapa berbuat baik kepada manusia di bumi, niscaya ia akan mendapat kebaikan dari langit.” — makna ajaran
Empati bukan teori — ia adalah keterampilan hidup. Anak tidak akan belajar empati hanya dari ceramah, tetapi dari interaksi yang memancing kesadaran hati. Ketika orang tua bertanya, “Menurut kamu, bagaimana perasaan temanmu waktu itu?” anak sedang dipandu untuk keluar dari dirinya dan memasuki dunia emosional orang lain. Pada proses itulah kebajikan tumbuh. Anak belajar: hati orang lain juga bisa sakit, bahagia, kecewa, bangga, takut, dan tersenyum — sama seperti dirinya.
Halaman berikut (2/10):
“Kenapa Anak Harus Belajar Merasakan Perasaan Orang Lain Terlebih Dahulu — Bukan Hanya Bersikap Baik.”
Kita akan membahas kenapa empati adalah inti dari moral — dan bagaimana anak bersikap baik karena mengerti, bukan karena takut dimarahi.