Halaman 1 — Produktif yang Salah Capek, Tapi Tidak Dibeli
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Banyak orang menulis setiap hari, tetapi tidak pernah menjual satu pun tulisan. Mereka rajin, disiplin, bahkan produktif. Namun produktivitas itu tidak pernah berubah menjadi nilai ekonomi. Di sinilah letak kesalahan paling umum dalam dunia kepenulisan modern: menyamakan banyak menulis dengan menulis yang dijual.
Pasar tidak memberi upah pada usaha, pasar memberi upah pada manfaat. Sebuah tulisan tidak dihargai karena panjangnya, karena rajinnya penulis, atau karena keindahan katanya. Tulisan dihargai karena ia memecahkan masalah, menjernihkan kebingungan, atau membantu seseorang mengambil keputusan. Inilah realitas yang sering dihindari oleh penulis yang terjebak romantisme proses.
Di era digital dan AI, ilusi produktivitas semakin kuat. Orang bisa menulis puluhan artikel dalam waktu singkat, namun tetap tidak menghasilkan apa-apa. Masalahnya bukan pada alat, tetapi pada pola berpikir. Menulis tanpa pola jual hanyalah aktivitas, bukan strategi.
Artikel ini tidak akan mengajarkan cara menulis lebih banyak. Justru sebaliknya, ia mengajak untuk menulis lebih sedikit, tetapi lebih tepat sasaran. Fokusnya bukan pada kecepatan, melainkan pada kecocokan: antara tulisan, kebutuhan pembaca, dan nilai yang bersedia dibayar pasar.
Penulis yang memahami pola jual tidak terobsesi dengan kuantitas. Ia memulai dari pertanyaan sederhana: “Siapa yang mau membeli ini, dan kenapa?” Pertanyaan ini mungkin terdengar kasar, tetapi justru menyelamatkan banyak energi dan waktu. Dengan bantuan AI, pertanyaan ini bisa dijawab secara lebih terstruktur dan objektif.
Afanaj‘alu al-muslimīna kal-mujrimīn.
Artinya: “Apakah Kami akan menjadikan orang-orang yang berserah diri (kepada Allah) sama dengan orang-orang yang berdosa?” (QS. Al-Qalam [68]: 35)
Ayat ini menegaskan bahwa hasil selalu terkait dengan cara. Usaha yang tepat tidak disamakan dengan usaha yang salah arah. Dalam menulis, kerja keras tanpa pola tidak otomatis bernilai. Nilai muncul ketika usaha diarahkan dengan benar.
Inna Allāha yuḥibbu idzā ‘amila aḥadukum ‘amalan an yutqinah.
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia menyempurnakannya.” (Hadis riwayat al-Baihaqi)
Menyempurnakan dalam konteks ini bukan berarti menulis lebih banyak, tetapi menulis lebih tepat. Artikel ini akan membedah pola-pola nyata yang membuat tulisan dijual, dibeli, dan dipercaya. Bukan teori kosong, melainkan kerangka berpikir yang bisa diterapkan secara konsisten.
Halaman berikut (2/10):
“Kenapa Pasar Tidak Peduli Seberapa Rajin Kamu Menulis.”
Kita akan membongkar cara pasar menilai tulisan
tanpa basa-basi.