Halaman 1 — Ketika Gaji Disalahkan Padahal Cara Hidup yang Membengkak
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Kalimat “gaji saya terlalu kecil” telah menjadi mantra kolektif masyarakat modern. Ia diucapkan oleh pegawai, pekerja lepas, bahkan oleh mereka yang secara nominal tergolong mapan. Kalimat ini terdengar jujur, seolah mencerminkan realitas ekonomi yang keras. Namun dalam banyak kasus, ia justru menutupi persoalan yang lebih dalam: ketidaksinkronan antara rezeki dan cara hidup.
Dalam pengamatan sosial berbasis lapangan, sering ditemukan fakta yang mengganggu logika sederhana. Dua orang dengan tingkat pendapatan yang relatif sama dapat menjalani kualitas hidup yang sangat berbeda. Yang satu selalu merasa kekurangan, tertekan oleh cicilan, dan hidup dalam kecemasan finansial. Yang lain hidup lebih tenang, terukur, bahkan mampu menyisihkan untuk masa depan. Jika pendapatan bukan pembeda utamanya, maka akar masalahnya harus dicari di tempat lain.
Kesalahan paling umum adalah menyamakan kebutuhan hidup dengan standar hidup. Kebutuhan bersifat objektif dan terbatas, sementara standar hidup bersifat subjektif dan mudah membengkak. Ketika standar hidup tumbuh tanpa kendali kesadaran, kenaikan gaji apa pun akan selalu terasa tidak cukup.
Liyunfiq żū sa‘atin min sa‘atih. Wa man qudira ‘alaihi rizquhū falyunfiq mimmā ātāhullāh. Lā yukallifullāhu nafsan illā mā ātāhā.
Artinya: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari apa yang Allah berikan kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan kepadanya.” (QS. Aṭ-Ṭalāq [65]: 7)
Ayat ini menegaskan satu prinsip fundamental dalam kehidupan ekonomi Islam: hidup harus selaras dengan kapasitas rezeki. Masalah muncul bukan ketika rezeki sempit, tetapi ketika manusia memaksakan gaya hidup yang melampaui apa yang Allah titipkan.
Unẓurū ilā man huwa asfala minkum wa lā tanẓurū ilā man huwa fauqakum.
Artinya: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian.” (HR. Muslim)
Pesan hadis ini bukan ajakan untuk pasrah, melainkan latihan kesadaran agar manusia tidak terjebak dalam perbandingan sosial tanpa akhir. Sebab rasa kurang yang lahir dari perbandingan tidak akan pernah selesai dengan angka berapa pun.
Artikel ini akan mengajak pembaca membongkar satu asumsi besar yang selama ini jarang disentuh secara jujur: bahwa problem ekonomi pribadi sering kali bukan karena gaji yang terlalu kecil, melainkan karena cara hidup yang tumbuh lebih cepat daripada kesadaran.
Halaman berikut (2/10):
“Standar Hidup: Antara Kebutuhan, Keinginan, dan Gengsi.”
Kita akan membedah bagaimana standar hidup terbentuk dan mengapa ia sering membesar tanpa disadari.