Halaman 1 — Salah Bertanya Awal dari Jawaban yang Keliru
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Banyak orang mengeluh sulit mendapatkan jawaban yang akurat. Mereka sudah membaca, sudah bertanya, bahkan sudah berdiskusi panjang. Namun hasilnya tetap kabur, saling bertentangan, atau tidak bisa dipakai untuk mengambil keputusan.
Masalahnya sering kali bukan pada kurangnya sumber atau kepintaran lawan bicara, melainkan pada cara bertanya itu sendiri. Pertanyaan yang keliru hampir pasti melahirkan jawaban yang keliru pula.
Bertanya bukan sekadar membuka percakapan. Ia adalah alat berpikir. Cara seseorang menyusun pertanyaan mencerminkan seberapa jernih ia memahami masalah yang sedang dihadapi.
Dalam praktik sehari-hari, banyak pertanyaan diajukan dalam kondisi emosi, asumsi, atau prasangka. Pertanyaan semacam ini sering terdengar aktif, tetapi sebenarnya pasif secara intelektual. Ia tidak mencari kejelasan, melainkan pembenaran.
Pertanyaan yang baik justru terasa tenang. Ia tidak tergesa-gesa mengarahkan jawaban, dan tidak menyelipkan kesimpulan di dalam kalimat tanya. Di sinilah perbedaan antara bertanya untuk tahu dan bertanya agar terlihat tahu.
Fas’alū ahladz-dzikri in kuntum lā ta‘lamūn.
Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Naḥl [16]: 43)
Ayat ini menegaskan bahwa bertanya adalah jalan ilmu. Namun ayat ini juga mengandung syarat implisit: pengakuan bahwa kita memang belum tahu.
Banyak pertanyaan gagal karena diajukan tanpa kerendahan hati. Penanya sudah membawa jawaban di kepalanya, lalu menggunakan pertanyaan sebagai alat untuk mengukuhkan posisi sendiri.
As-su’ālu niṣful-‘ilm.
Artinya: “Bertanya adalah setengah dari ilmu.” (Makna hikmah yang masyhur di kalangan ulama)
Jika bertanya adalah setengah ilmu, maka cara bertanya menentukan kualitas ilmu yang lahir. Pertanyaan yang jernih memotong kebingungan, sementara pertanyaan yang kabur memperpanjang kesesatan.
Artikel ini akan membahas bagaimana menyusun pertanyaan yang membuka jalan menuju jawaban yang akurat. Kita akan melihat bahwa kualitas jawaban hampir selalu sebanding dengan kualitas pertanyaan yang diajukan.
Halaman berikut (2/10):
“Menghapus Asumsi Sebelum Bertanya.”
Kita akan membahas bagaimana asumsi tersembunyi merusak akurasi jawaban sejak awal.