Halaman 1 — Antara Memiliki dan Menjadi Di Mana Cinta Seharusnya Berakar
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.
Banyak orang mengira bahwa semakin kuat mereka menggenggam, semakin besar cinta mereka. Mereka takut kehilangan, takut ditinggalkan, takut tidak lagi menjadi prioritas. Ketakutan itu lalu berubah menjadi kontrol, pembatasan, bahkan kecemburuan yang dibenarkan atas nama rasa sayang. Padahal pertanyaannya sederhana: jika cinta membuat seseorang kehilangan ruang untuk menjadi dirinya sendiri, apakah itu masih layak disebut cinta?
Berdasarkan penelitian psikologi relasi modern—khususnya teori attachment—ditemukan bahwa relasi yang sehat ditandai oleh keamanan emosional, bukan ketergantungan emosional. Individu yang memiliki pola keterikatan aman tidak merasa perlu membatasi pasangannya untuk merasa tenang. Sebaliknya, mereka mendukung pertumbuhan satu sama lain. Artinya, cinta sejati tidak lahir dari rasa takut kehilangan, melainkan dari kematangan diri.
Observasi sosial dalam kehidupan nyata memperlihatkan pola yang sama: relasi yang dipenuhi kontrol cenderung berakhir dengan kelelahan emosional, sementara relasi yang memberi ruang justru melahirkan kedekatan yang lebih dalam. Cinta yang mengikat menghasilkan kecemasan; cinta yang bertumbuh menghasilkan ketenangan.
Wa min āyātihī an khalaqa lakum min anfusikum azwājan litaskunū ilaihā wa ja‘ala bainakum mawaddatan wa raḥmah.
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rūm [30]: 21)
Kata litaskunū berarti agar kamu merasa tenang. Ketenangan tidak lahir dari pengawasan, tidak pula dari pembatasan. Ia lahir dari rasa aman. Rasa aman hanya mungkin muncul ketika dua individu sama-sama memiliki identitas yang utuh.
Maka secara ilmiah dan spiritual, cinta adalah proses pertumbuhan dua jiwa yang berjalan berdampingan. Ia bukan rantai yang mengikat, melainkan tanah yang menyuburkan. Cinta yang sehat membuat seseorang berkembang menjadi versi terbaik dirinya, bukan mengecil demi mempertahankan hubungan.
Artikel ini akan mengkaji secara sistematis—melalui pendekatan literatur psikologi, refleksi Qur’ani, dan observasi sosial—mengapa paradigma cinta perlu diperbaiki. Karena pada akhirnya, cinta bukan tentang siapa yang kamu kuasai, tetapi siapa yang kamu bantu untuk bertumbuh.
Halaman berikut (2/10):
“Mengapa Rasa Takut Sering Disalahartikan sebagai Cinta.”
Kita akan membedah akar psikologis posesivitas, kecemburuan, dan ketergantungan emosional dalam relasi.