Halaman 1 — Awal dari Sebuah Kesadaran Memahami Hakikat Cinta
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Banyak orang mengira cinta adalah soal memiliki. Jika sudah suka, harus bersama. Jika sudah nyaman, harus dipertahankan. Jika sudah takut kehilangan, harus diperjuangkan mati-matian. Tapi jarang yang bertanya: apakah yang kita sebut cinta itu benar-benar pilihan sadar, atau hanya dorongan ego yang takut sendiri?
Kita hidup di zaman di mana cinta sering berubah menjadi tekanan. “Kalau kamu cinta aku, kamu harus begini.” “Kalau kamu sayang, kamu nggak boleh begitu.” Kata-kata yang terdengar manis itu perlahan berubah menjadi jerat. Cinta tidak lagi memberi ruang, tetapi mengurung. Tidak lagi menenangkan, tetapi mengendalikan. Tidak lagi memilih, tetapi memaksa.
Padahal cinta sejati selalu lahir dari kebebasan. Ia tidak berdiri di atas ancaman, tidak bertumbuh dari rasa takut, dan tidak hidup dari tekanan emosional. Cinta yang dipaksa hanya menghasilkan kepatuhan semu. Orang mungkin bertahan, tetapi hatinya sudah lama menjauh. Orang mungkin tinggal, tetapi jiwanya sudah lelah.
Secara psikologis, cinta yang sehat dibangun dari dua individu yang utuh, bukan dua orang yang saling menggenggam karena takut jatuh sendiri. Dalam perspektif etika dan spiritualitas, cinta adalah amanah, bukan alat kontrol. Ia menguatkan pilihan, bukan mematikan kebebasan.
Islam sendiri menegaskan bahwa iman—fondasi tertinggi dari cinta kepada Tuhan—tidak boleh dipaksakan.
Lā ikrāha fid-dīn.
Artinya: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama.” (QS. Al-Baqarah [2]: 256)
Jika dalam urusan iman saja tidak boleh ada paksaan, bagaimana mungkin dalam urusan cinta antar manusia kita merasa berhak memaksa? Cinta yang benar adalah keputusan sadar. Ia dipilih setiap hari, bukan dipertahankan karena rasa bersalah atau ancaman kehilangan.
Artikel ini akan mengajak kita melihat cinta dari sudut yang lebih dewasa: bahwa cinta bukan tentang siapa yang bisa kita tahan, tetapi siapa yang tetap memilih kita tanpa tekanan. Bukan tentang siapa yang takut pergi, tetapi siapa yang bebas untuk pergi—namun tetap tinggal.
Karena pada akhirnya, cinta itu bukan soal memaksa seseorang bertahan. Cinta adalah tentang memberi ruang, lalu melihat siapa yang dengan tenang memilih untuk tetap tinggal.
Halaman berikut (2/10):
“Cinta dan Kebebasan: Fondasi Hubungan yang Sehat.”
Kita akan membedah perbedaan antara cinta yang lahir dari pilihan dan cinta yang tumbuh dari ketakutan.