Halaman 1 — Cinta Bukan Penyelamat Ia Hanya Teman Perjalanan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Banyak orang tumbuh dengan satu keyakinan yang terdengar romantis namun secara psikologis problematik: bahwa suatu hari nanti, cinta akan datang untuk menyelamatkan hidupnya. Narasi ini diperkuat oleh film, novel, dan budaya populer yang menggambarkan pasangan sebagai “penyempurna” bahkan “penyelamat” eksistensi. Seolah-olah ketika seseorang hadir, semua luka otomatis sembuh, semua trauma menghilang, dan arah hidup mendadak menjadi jelas.
Namun penelitian dalam psikologi relasi menunjukkan bahwa individu yang menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya pada pasangan cenderung mengalami kecemasan relasional yang tinggi. Mereka takut ditinggalkan, takut tidak cukup baik, dan takut kehilangan sumber rasa aman tersebut. Ketika cinta diposisikan sebagai penyelamat, relasi berubah menjadi ruang tuntutan emosional yang berat. Dua orang yang sama-sama rapuh lalu saling berharap menjadi pahlawan bagi satu sama lain. Ini bukan fondasi yang sehat.
Dalam perspektif tauhid, konsep “penyelamat” sangat jelas: hanya Allah sumber keselamatan. Manusia hanyalah sebab, bukan pusat kuasa. Al-Qur’an menegaskan:
Wa annahū huwa aḍ-ḥaka wa abkā.
Artinya: “Dan bahwa Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS. An-Najm [53]: 43)
Ayat ini mengajarkan prinsip dasar yang sering dilupakan dalam relasi modern: yang membuat bahagia bukan pasanganmu, melainkan Allah yang menggerakkan sebab-sebab kebahagiaan itu. Ketika pasangan diposisikan sebagai sumber utama kebahagiaan, maka secara tidak sadar kita telah menggeser pusat ketergantungan dari Tuhan kepada manusia.
Bahkan Rasulullah mengajarkan ketergantungan total kepada Allah, bukan kepada manusia, melalui doa yang masyhur:
Lā takilnī ilā nafsī ṭarfata ‘ain.
Artinya: “Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walau sekejap mata.” (HR. Abu Dawud)
Jika kepada diri sendiri saja kita tidak boleh bergantung penuh, apalagi kepada manusia lain yang sama-sama terbatas. Maka harapan bahwa cinta akan menyelamatkan hidup adalah mitos emosional yang perlu diluruskan.
Cinta yang sehat bukanlah ambulans yang datang saat kamu terluka, lalu mengobatimu tanpa proses. Cinta adalah teman perjalanan. Ia hadir bukan untuk menyelesaikan hidupmu, tetapi untuk berjalan bersamamu ketika kamu sedang menyelesaikan hidupmu sendiri. Ia bukan pengganti proses penyembuhan; ia hanya ruang dukungan.
Artikel ini akan membahas secara ilmiah dan reflektif bagaimana cinta seharusnya dipahami: melalui pendekatan psikologi relasi, kajian pustaka keislaman, serta refleksi eksistensial tentang tanggung jawab pribadi. Kita akan melihat bahwa cinta tidak pernah dirancang untuk menyelamatkanmu — tetapi untuk menemanimu bertumbuh.
Halaman berikut (2/10): “Mitos Penyelamat dalam Relasi Modern.”
Kita akan membedah bagaimana budaya populer membentuk ekspektasi keliru tentang cinta dan dampaknya terhadap kesehatan mental serta spiritual.