Cinta Sehat Itu Tenang, Bukan Deg-Degan Tiap Hari

Halaman 1 — Antara Adrenalin dan Kedamaian Memahami Sensasi yang Sering Disalahartikan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma‘in.

Banyak orang mengira cinta itu harus membuat jantung berdebar setiap hari. Harus ada rasa cemas ketika pesan belum dibalas. Harus ada rasa takut kehilangan. Harus ada sensasi deg-degan yang intens agar hubungan terasa “hidup”. Jika tidak, mereka mengira cintanya sudah hilang.

Padahal dalam kajian psikologi relasi, sensasi deg-degan yang berlebihan sering kali bukan tanda cinta yang sehat, melainkan respons stres dan kecemasan. Adrenalin dan dopamin memang menciptakan perasaan intens, tetapi intensitas tidak selalu berarti kedalaman.

Banyak hubungan dimulai dengan fase euforia yang kuat. Namun ketika fase itu mereda dan digantikan ketenangan, sebagian orang merasa ada yang salah. Mereka salah mengira stabilitas sebagai kebosanan. Mereka mengira damai sebagai kurangnya gairah.

Observasi lapangan terhadap dinamika pasangan jangka panjang menunjukkan pola berbeda. Hubungan yang bertahan bukanlah yang penuh drama, melainkan yang penuh ketenangan. Bukan yang membuat cemas setiap hari, tetapi yang memberi rasa aman.

Wa ja‘ala bainakum mawaddatan wa raḥmah.

Artinya: “Dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rūm [30]: 21)

Mawaddah dan rahmah bukanlah sensasi panik dan tegang. Ia adalah kasih yang tenang dan sayang yang lembut. Cinta dalam perspektif spiritual justru identik dengan ketenteraman, bukan kecemasan.

Secara neurologis, deg-degan terus-menerus adalah tanda sistem saraf yang aktif dalam mode waspada. Jika hubungan membuat seseorang selalu cemas, maka tubuh sebenarnya sedang memberi sinyal bahwa ada ketidakstabilan. Namun karena sensasi itu terasa intens, banyak orang menyebutnya “cinta”.

Artikel ini akan membedah secara sistematis—melalui pendekatan psikologis, sosial, dan spiritual— mengapa cinta yang sehat justru terasa tenang. Mengapa hubungan yang stabil bukan berarti membosankan. Dan mengapa kedamaian lebih penting daripada adrenalin.

Jika hari ini kamu merasa cintamu selalu penuh kecemasan, mungkin yang kamu alami bukan kedalaman, melainkan ketidakpastian. Dan kita akan membahasnya secara jujur di halaman-halaman berikutnya.


🌿 Cinta yang sehat tidak membuatmu waspada setiap saat — ia membuatmu merasa aman.

Halaman berikut (2/10): “Mengapa Otak Suka Drama dalam Hubungan?”
Kita akan memahami bagaimana sistem saraf dan hormon memengaruhi persepsi tentang cinta.