Halaman 1 — Jejak Perjuangan Dari Aksi ke Advokasi
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Ketika publik melihat LSM di jalanan, membawa poster, meneriakkan tuntutan, dan menekan negara dengan suara kolektif, sering muncul anggapan sederhana: bahwa peran mereka berhenti pada demonstrasi. Padahal, jalanan hanyalah pintu masuk. Peran paling menentukan LSM justru sering terjadi jauh dari sorotan kamera, di ruang-ruang sidang, meja advokasi, dan dokumen hukum yang sunyi.
Demonstrasi bukan tujuan akhir, melainkan metode awal untuk membuka perhatian publik dan negara. Dari sanalah kerja panjang dimulai: mengumpulkan bukti, mendampingi korban, menyusun kronologi, dan menerjemahkan penderitaan sosial ke dalam bahasa hukum. LSM bekerja di titik temu antara emosi kolektif rakyat dan rasionalitas sistem hukum.
Banyak kasus pelanggaran hak, konflik agraria, ketidakadilan kebijakan, atau penyalahgunaan kewenangan tidak pernah sampai ke ruang sidang tanpa kerja senyap LSM. Mereka menanggung risiko hukum, tekanan politik, bahkan stigma sosial, demi memastikan bahwa suara rakyat tidak berhenti sebagai teriakan, tetapi berubah menjadi berkas perkara.
Artikel ini berangkat dari tesis sederhana namun penting: peran nyata LSM adalah menjembatani jalanan dan ruang sidang. Mereka mengawal transisi dari kemarahan publik menuju pertanggungjawaban hukum. Tanpa jembatan ini, demonstrasi berisiko menguap, dan hukum berisiko kehilangan konteks sosialnya.
Dalam demokrasi yang sehat, LSM tidak berdiri di luar sistem, tetapi bekerja di tepinya, mendorong sistem agar tetap berpihak. Mereka tidak menggantikan negara, tetapi memaksa negara untuk setia pada mandatnya sendiri. Dari jalanan ke ruang sidang, dari suara ke putusan, di situlah letak peran yang sering luput dibaca.
Wa idzā ḥakamtum bainan-nāsi an taḥkumū bil-‘adl.
Artinya: “Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, maka hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisā’ [4]: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa keadilan bukan hanya kewajiban hakim, tetapi kewajiban sistem. LSM hadir untuk memastikan bahwa proses menuju keadilan tidak terputus di tengah jalan. Mereka menjaga agar perkara rakyat tidak berhenti sebagai laporan, melainkan diuji di hadapan hukum.
Dengan kerangka ini, kita perlu membaca ulang peran LSM secara lebih utuh. Bukan sekadar aktor jalanan, bukan pula oposisi politik, melainkan pekerja demokrasi yang mengawal transisi dari tuntutan sosial menuju keadilan institusional. Di halaman-halaman berikut, kita akan menelusuri bagaimana proses ini bekerja, apa tantangannya, dan mengapa ia menentukan nasib hak-hak warga.
Halaman berikut (2/10): “Mengapa Aksi Jalanan Tidak Pernah Cukup?”
Kita akan membahas keterbatasan demonstrasi
dan mengapa advokasi hukum menjadi tahap krusial.