Halaman 1 — Ketika Prasangka Tumbuh Transparansi sebagai Penjaga Kedamaian
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Banyak konflik di desa tidak dimulai dari masalah besar. Ia sering tumbuh dari bisik-bisik kecil, dari rasa curiga yang dibiarkan tanpa jawaban. Ketika informasi tidak jelas, imajinasi mengambil alih. Dan imajinasi, jika bercampur emosi, mudah berubah menjadi fitnah.
Desa adalah ruang sosial yang sangat dekat. Semua orang saling mengenal, kabar cepat beredar, dan isu kecil bisa membesar dalam hitungan jam. Dalam kondisi seperti ini, keterbukaan bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan utama untuk menjaga kedamaian.
Ketika warga tidak tahu bagaimana keputusan diambil, bagaimana anggaran digunakan, atau bagaimana pelayanan dijalankan, maka ruang kosong informasi akan diisi oleh asumsi. Asumsi ini jarang berpihak pada kebaikan. Ia sering menempatkan aparatur sebagai pihak yang dicurigai, meski belum tentu bersalah.
Transparansi desa hadir untuk menutup ruang kosong itu. Bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu, tetapi untuk mencegah prasangka. Informasi yang terbuka membuat warga memahami proses, bukan hanya hasil. Dan ketika proses dipahami, emosi cenderung mereda.
Day 7 dalam seri Desa Transparan mengajak kita melihat keterbukaan informasi sebagai alat pencegah konflik. Kita akan membahas bagaimana transparansi, jika dijalankan dengan benar, mampu menurunkan tensi sosial, meredam fitnah, dan menjaga harmoni desa.
Yā ayyuhalladzīna āmanū in jā’akum fāsiqun binaba’in fatabayyanū.
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Ḥujurāt [49]: 6)
Ayat ini adalah fondasi etika sosial. Ia mengajarkan bahwa kedamaian lahir dari kejelasan informasi. Transparansi desa membantu masyarakat untuk tidak terjebak pada kabar setengah matang yang memecah persaudaraan.
Pada halaman-halaman berikut, kita akan menelusuri hubungan antara transparansi, konflik, dan fitnah secara lebih mendalam. Kita akan melihat bagaimana desa yang terbuka cenderung lebih tenang, dan bagaimana keterbukaan dapat menjadi penjaga harmoni sosial.
Halaman berikut (2/10):
“Mengapa Konflik Desa Sering Berawal dari Informasi yang Tertutup.”
Kita mulai dari akar masalahnya
sebelum membahas solusi.