Di Era Orang Serakah, Integritas Jadi Hal Paling Revolusioner

Halaman 1 — Di Era Serakah Integritas Jadi Tindakan Paling Nekat


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’in

Zaman sekarang lucu dan tragis di saat yang sama: orang serakah disebut ambisius, orang licik disebut visioner, orang culas disebut cerdas, orang manipulatif disebut pintar main strategi. Semakin besar kelicikannya, semakin banyak tepuk tangan yang ia terima. Sementara orang jujur dicap bodoh, orang amanah dibilang tidak berkembang, orang berprinsip dianggap kaku, dan orang berhati lurus dinilai tidak siap bersaing. Dunia sedang upside-down — kejahatan dipuji selama dibungkus elegan, dan kebaikan dihina selama tidak viral.

Kita hidup di era di mana: orang bangga mengambil hak orang, pejabat bangga menindas rakyat, atasan bangga mengorbankan bawahan, pelaku usaha bangga bermain curang, influencer bangga memamerkan kesombongan, dan orang biasa bangga menjadi munafik sosial demi validasi. Integritas menjadi barang paling langka — bahkan lebih langka dari emas. Karena semua orang ingin terlihat baik, tapi sedikit yang mau benar-benar menjadi baik. Semua orang ingin dihormati, tapi sedikit yang pantas dihormati. Semua orang ingin sukses besar, tapi sedikit yang ingin mencapainya tanpa merusak orang lain.

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman 31:18)

Ayat ini seperti teguran keras untuk zaman ini. Manusia berlomba menjadi pusat perhatian, bukan pusat manfaat. Mereka bangga memamerkan kekayaan meski diperoleh dengan menipu. Mereka bangga terlihat sukses meski menyakiti banyak orang. Dan ironisnya — masyarakat mengagumi mereka. Seakan kita semua sepakat bahwa yang penting adalah menang, meski kalah sebagai manusia. Padahal kemenangan yang merusak martabat adalah kekalahan paling busuk yang tidak dimengerti sampai semuanya terlambat.

Dunia modern menciptakan generasi yang takut miskin uang, tapi tidak takut miskin akhlak. Takut kehilangan jabatan, tapi tidak takut kehilangan harga diri. Takut reputasinya hancur di internet, tapi tidak takut dirinya hancur di hadapan Tuhan. Kita sudah sampai pada titik di mana tidak ikut jahat saja sudah dianggap pemberontakan. Maka memilih hidup dengan integritas — jujur saat semua orang berbohong, adil saat semua orang korup, tulus saat semua orang manipulatif — adalah tindakan paling revolusioner di zaman ini.


🌿 Di era semua orang ingin terlihat hebat, jadilah orang yang benar. Di era semua orang ingin berkuasa, jadilah orang yang amanah.

Halaman berikut (2/10): “Mengapa Dunia Mempromosikan Keserakahan — dan Siapa yang Diuntungkan Dari Kekacauan Moral Ini.”
Kita lanjut menguliti akar masalah era serakah dengan tajam & tanpa kompromi.