Doa Itu Bukan Pesan Instan

Halaman 1 — Antara Harap dan Sabar Memahami Hakikat Doa


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muḥammad.

Kita hidup di zaman serba instan. Pesan terkirim dalam hitungan detik. Uang berpindah hanya dengan satu sentuhan layar. Makanan datang sebelum rasa lapar benar-benar terasa. Semua bergerak cepat. Semua menuntut respons segera. Maka tanpa sadar, cara berpikir ini ikut memengaruhi cara kita berdoa.

Ketika doa dipanjatkan, hati sering menunggu notifikasi jawaban. Jika belum terlihat hasilnya, muncul gelisah. Jika belum terjadi perubahan, muncul ragu. Bahkan terkadang muncul bisikan halus: “Apakah doaku didengar?” Di sinilah masalah dimulai. Doa diperlakukan seperti pesan instan—kirim sekarang, balasan sekarang.

Padahal secara teologis dan psikologis, doa bukan mekanisme transaksi cepat. Ia adalah proses relasional yang melibatkan waktu, kesiapan batin, dan kebijaksanaan Ilahi. Dalam perspektif kajian spiritual klasik maupun penelitian psikologi religius modern, doa bukan hanya permintaan hasil, tetapi pembentukan jiwa.

Banyak orang berhenti berdoa bukan karena tidak percaya, tetapi karena kecewa. Mereka merasa sudah cukup memohon, sudah cukup menangis, sudah cukup berharap—namun hasil belum tampak. Harapan yang terlalu terikat pada kecepatan membuat hati kehilangan kesabaran.

Ud‘ū rabbakum taḍarru‘an wa khufyah, innahū lā yuḥibbul-mu‘tadīn.

Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A‘rāf [7]: 55)

Kata “melampaui batas” dalam ayat ini tidak hanya bermakna berlebihan dalam suara atau sikap, tetapi juga bisa dipahami sebagai melampaui batas kesadaran. Ketika doa dipenuhi tuntutan, ketika hati memaksa waktu Tuhan mengikuti waktu manusia, di situlah relasi menjadi tidak sehat.

Secara ilmiah, harapan yang terlalu terikat pada hasil cepat memicu kecemasan. Ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realitas, sistem emosional bereaksi negatif. Namun ketika seseorang memahami bahwa doa adalah proses, bukan notifikasi, maka ekspektasi menjadi lebih matang.

Doa itu bukan pesan instan. Ia lebih mirip benih yang ditanam. Ada tanah yang perlu disiapkan, ada waktu yang perlu dilalui, ada akar yang tumbuh sebelum buah terlihat. Kadang jawaban bukan berupa apa yang diminta, tetapi berupa perubahan dalam diri yang berdoa.

Jika hari ini kamu merasa doamu belum dijawab, mungkin yang sedang dibentuk bukan hasilnya—melainkan hatimu. Karena dalam banyak keadaan, yang lebih penting dari apa yang kita minta adalah siapa kita ketika menunggu.


🌿 Doa bukan tentang seberapa cepat dikabulkan. Ia tentang seberapa dalam kamu belajar percaya.

Halaman berikut (2/10): “Mengapa Kita Ingin Semua Serba Cepat?”
Kita akan menelusuri akar psikologis mengapa manusia cenderung ingin doa segera dijawab.