Ego yang Bersembunyi di Balik Doa

Halaman 1 — Saat Doa Dipertanyakan Antara Cinta dan Kepentingan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.

Doa adalah bahasa paling intim antara manusia dan Tuhan. Ia sering dianggap sebagai puncak ketundukan, tanda keimanan, dan bukti cinta. Namun pertanyaan yang jarang diajukan—dan sering dihindari—adalah: siapa sebenarnya yang sedang berbicara ketika kita berdoa?

Banyak doa lahir bukan dari keheningan cinta, melainkan dari kegaduhan kebutuhan. Kita datang kepada Tuhan ketika terdesak, ketika rencana gagal, ketika kendali hidup lepas dari tangan. Pada saat itu, doa menjadi alat pemulihan kuasa— bukan penghambaan, tetapi strategi terakhir ego yang kelelahan.

Ego tidak selalu tampil kasar dan sombong. Ia bisa sangat religius, fasih menyebut nama Tuhan, bahkan menangis dalam sujud. Namun di balik itu, tersembunyi motif yang jarang disadari: keinginan agar Tuhan menyesuaikan realitas dengan skenario pribadi. Dalam kondisi ini, Tuhan direduksi menjadi “asisten ilahi” yang tugasnya mengabulkan kehendak.

Refleksi ini bukan ajakan untuk meragukan doa, melainkan untuk membersihkan niat di baliknya. Sebab doa yang lahir dari ego cenderung bersyarat: jika dikabulkan, kita bersyukur; jika tidak, kita kecewa. Relasi semacam ini rapuh, karena bertumpu pada hasil, bukan pada kehadiran Tuhan itu sendiri.

Membedakan doa karena cinta dan doa karena kepentingan membutuhkan kejujuran batin. Doa karena cinta tetap hidup meski keadaan tidak berubah. Ia tidak menuntut, tetapi mempercayakan. Sementara doa yang digerakkan ego sering disertai kecemasan, kalkulasi, dan tuntutan waktu.

Di sinilah doa menjadi cermin kesadaran. Ia memperlihatkan apakah kita sedang mendekat kepada Tuhan atau justru membawa ego semakin dekat ke pusat ibadah. Artikel ini mengajak pembaca untuk menelusuri lapisan-lapisan niat, memahami bagaimana ego dapat bersembunyi di balik kata-kata suci, dan bagaimana doa dapat kembali menjadi jalan penyucian, bukan alat pemaksaan.

🌿 Doa tidak salah. Yang perlu ditanya adalah: siapa yang memimpin di dalamnya?

Halaman berikut (2/10):
“Ego Religius: Ketika Spiritualitas Menjadi Alat.”
Kita akan membahas bagaimana ego beradaptasi, bahkan tumbuh subur, dalam praktik-praktik keagamaan.