Halaman 1 — Pembagian Kerja Baru Manusia Berpikir, Mesin Bekerja
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Dulu, kerja keras selalu identik dengan tenaga. Siapa yang paling capek, dialah yang dianggap paling pantas dibayar. Logika ini tertanam lama dalam cara manusia memandang rezeki. Namun dunia berubah. Di era AI, kerja keras tidak lagi selalu berarti menguras tenaga, melainkan menguras pikiran. Dan pembagian kerja pun ikut berubah.
Hari ini, manusia tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Ada mesin yang sanggup mengulang, mempercepat, dan mengeksekusi. Namun ada satu hal yang tetap tidak bisa dipindahkan: arah. AI bisa bekerja tanpa lelah, tetapi ia tidak tahu ke mana harus melangkah tanpa arahan manusia. Di sinilah pembagian peran terjadi: manusia bekerja dengan otak, AI bekerja dengan tenaga.
Masalahnya, banyak orang salah posisi. Mereka masih memaksa diri menjadi “mesin”: mengerjakan hal-hal repetitif, mengulang tanpa nilai tambah, lalu kelelahan. Padahal mesin sudah tersedia untuk pekerjaan itu. Ketika manusia bersaing dengan mesin pada wilayah tenaga, yang terjadi bukan produktivitas, melainkan kelelahan tanpa hasil.
Artikel ini tidak membahas bagaimana AI menggantikan manusia. Justru sebaliknya. Ia membahas bagaimana manusia mengambil posisi yang tepat agar AI menjadi pekerja, bukan saingan. Ketika posisi ini jelas, pembagian hasil menjadi logis: manusia mendapat nilai dari arah, AI mendapat porsi dari eksekusi. Duitnya dibagi bukan karena adil secara emosi, tetapi karena adil secara fungsi.
Ini bukan soal malas atau rajin. Ini soal kecerdasan ekonomi. Orang yang bekerja dengan otak dibayar karena keputusan, bukan karena capek. AI memungkinkan manusia fokus pada keputusan bernilai tinggi, sementara tenaga kerja diserahkan pada sistem. Inilah model kerja baru yang sedang terjadi, disadari atau tidak.
Wa an laisa lil-insāni illā mā sa‘ā.
Artinya: “Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)
Usaha dalam ayat ini tidak dibatasi pada tenaga fisik. Ia mencakup kesadaran, pilihan, dan arah. Ketika manusia mengarahkan, dan AI mengeksekusi, keduanya sedang berusaha pada wilayahnya masing-masing.
Al-ḥikmatu ḍāllatul-mu’min.
Artinya: “Hikmah adalah barang hilang milik orang beriman.” (Hadis riwayat at-Tirmidzi)
Memanfaatkan AI secara tepat adalah bentuk hikmah modern. Bukan menyerahkan segalanya, dan bukan pula menolaknya. Melainkan menempatkannya sebagai tenaga kerja yang tunduk pada arah manusia.
Halaman berikut (2/10):
“Kesalahan Fatal: Manusia Bertingkah Seperti Mesin.”
Kita mulai membedah
kenapa banyak orang bekerja keras
tapi tetap kalah cepat dari AI.