Halaman 1 — Antara Lelah dan Lari Menguji Makna Healing yang Sebenarnya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
“Aku lagi healing.” Kalimat ini hari ini terdengar elegan, modern, bahkan terasa sahih secara sosial. Seolah-olah ia adalah jawaban paling bijak untuk semua bentuk kelelahan hidup. Penat karena pekerjaan? Healing. Konflik keluarga tak kunjung selesai? Healing. Target hidup tak tercapai? Healing. Tetapi jarang yang benar-benar berhenti untuk bertanya: apakah kita sedang menyembuhkan diri — atau sekadar menghindari tanggung jawab yang terasa berat?
Dalam kajian psikologi modern, strategi menghadapi stres dibagi menjadi dua pendekatan besar: problem-focused coping dan avoidance coping. Pendekatan pertama berusaha menyelesaikan sumber masalah secara langsung. Pendekatan kedua justru mengalihkan perhatian dari masalah tanpa benar-benar menyentuh akarnya. Fenomena healing yang berkembang di ruang digital sering kali tidak jelas berada di sisi mana. Ia bisa menjadi sarana pemulihan jiwa — tetapi juga bisa menjadi pelarian yang dipoles dengan estetika.
Islam tidak pernah melarang manusia beristirahat. Bahkan Rasulullah pun memiliki waktu untuk menyendiri, berdoa, dan menenangkan jiwa. Namun ada garis tipis yang membedakan antara istirahat untuk kembali kuat dan istirahat untuk menghindari kewajiban. Yang pertama adalah bentuk kesiapan menghadapi realitas. Yang kedua adalah penundaan tanggung jawab yang lambat laun melemahkan karakter.
Fa inna ma‘al-‘usri yusrā. Inna ma‘al-‘usri yusrā.
Artinya: “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6)
Ayat ini tidak menyuruh manusia lari dari kesulitan. Tidak pula menawarkan jalan pintas untuk menghindari tekanan hidup. Justru Allah menegaskan bahwa kemudahan hadir bersama kesulitan itu sendiri. Artinya, proses pertumbuhan terjadi ketika seseorang tetap berada di medan tanggung jawabnya — bukan ketika ia meninggalkannya.
Kullukum rā‘in wa kullukum mas’ūlun ‘an ra‘iyyatihi.
Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa hidup bukan sekadar ruang untuk mencari kenyamanan pribadi. Ia adalah amanah. Peran sebagai anak, orang tua, pasangan, pemimpin, atau profesional adalah bentuk kepemimpinan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Maka ketika healing dijadikan alasan untuk menjauh dari kewajiban, maknanya telah bergeser dari pemulihan menjadi penghindaran.
Artikel ini akan mengkaji secara ilmiah dan spiritual fenomena healing dalam konteks tanggung jawab hidup. Dengan pendekatan penelitian pustaka dan refleksi nilai-nilai Islam, kita akan membedah: kapan healing menjadi kebutuhan jiwa yang sehat, dan kapan ia berubah menjadi tameng untuk tidak bertumbuh. Sebab menyembuhkan diri yang sejati bukan berarti membebaskan diri dari amanah — melainkan menguatkan diri agar mampu menunaikannya dengan lebih matang.
Halaman berikut (2/10):
“Healing dalam Psikologi: Pemulihan atau Penghindaran?”
Kita akan membedah secara ilmiah bagaimana konsep healing dipahami dalam teori psikologi modern dan dampaknya terhadap karakter serta kedewasaan individu.