Halaman 1 — Melambat untuk Memahami Arah Bukan Berlomba Tanpa Tujuan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Sejak kecil, tanpa sadar kita dididik untuk membandingkan. Nilai harus lebih tinggi dari teman. Karier harus lebih cepat dari saudara. Usia sekian harus sudah menikah. Usia sekian harus sudah punya rumah. Media sosial memperparahnya—menjadikan hidup orang lain seperti papan skor raksasa yang bisa kita lihat setiap hari. Akhirnya, banyak orang menjalani hidup bukan karena panggilan jiwa, tetapi karena tekanan perbandingan. Mereka tidak lagi bertanya, “Apa makna langkahku hari ini?” melainkan, “Aku kalah atau menang dari siapa?”
Padahal, secara filosofis dan spiritual, hidup bukanlah kompetisi horizontal, melainkan perjalanan vertikal. Ia bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling sadar. Dalam pendekatan penelitian pustaka terhadap literatur psikologi modern, ditemukan bahwa kebahagiaan jangka panjang lebih berkaitan dengan personal growth dan makna hidup daripada pencapaian eksternal semata. Sementara itu, pendekatan lapangan melalui pengamatan sosial menunjukkan bahwa individu yang terlalu terjebak dalam perbandingan cenderung mengalami kecemasan, kelelahan mental, dan kehilangan arah eksistensial.
Al-Qur’an sendiri tidak pernah memerintahkan manusia untuk mengalahkan orang lain dalam urusan dunia, tetapi untuk berlomba dalam kebaikan.
Fastabiqū al-khairāt.
Artinya: “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 148)
Perhatikan: bukan berlomba dalam kekayaan, jabatan, atau popularitas—melainkan dalam kebaikan. Artinya, orientasi hidup seorang mukmin bukan mengungguli manusia lain, tetapi menyempurnakan dirinya di hadapan Tuhan. Ketika hidup dipahami sebagai perjalanan, maka setiap fase—lambat atau cepat, naik atau turun—memiliki makna pembentukan.
Maka pertanyaan reflektifnya sederhana tapi dalam: apakah hari ini kamu sedang berjalan di jalanmu sendiri, atau sedang berlari di lintasan orang lain? Jika hidup ini adalah perjalanan, maka arah jauh lebih penting daripada kecepatan. Sebab yang tersesat meski berlari tetap saja semakin jauh dari tujuan.
Artikel ini akan mengurai, secara ilmiah dan spiritual, mengapa paradigma “hidup sebagai kompetisi” justru melahirkan kekosongan, dan bagaimana menggesernya menjadi “hidup sebagai perjalanan” yang sarat makna, keberkahan, dan ketenangan batin.
Halaman berikut (2/10): “Psikologi Perbandingan dan Luka yang Tak Terlihat.”
Kita akan membedah bagaimana budaya kompetisi membentuk kecemasan modern dan kehilangan makna hidup.