Halaman 1 — Kesalahan Persepsi Saat Definisi Menghancurkan Rasa
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Kamu merasa hidupmu hancur. Target meleset. Rencana berantakan. Orang lain terlihat melesat sementara kamu seperti berjalan di tempat. Rasanya seperti ada yang salah dengan hidupmu.
Tapi pernahkah kamu berhenti sejenak dan bertanya: benar nggak sih hidupmu yang hancur? Atau jangan-jangan yang keliru itu definisi bahagiamu?
Banyak orang menilai hidup dari satu ukuran sempit: uang, status, pencapaian, validasi sosial. Jika ukuran itu belum terpenuhi, mereka menyimpulkan hidupnya gagal.
Padahal bisa jadi kamu sehat, masih punya orang yang peduli, masih punya kesempatan belajar, masih diberi waktu untuk memperbaiki diri. Itu bukan hidup yang hancur. Itu hidup yang sedang berjalan.
Wa lā tahinu wa lā taḥzanu wa antumul-a‘lawna in kuntum mu’minīn.
Artinya: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 139)
Ayat ini tidak mengatakan hidup akan selalu mudah. Tetapi ia meluruskan cara pandang: jangan buru-buru menyimpulkan kegagalan hanya karena satu aspek belum terpenuhi.
Secara psikologis, persepsi sangat menentukan rasa. Dua orang bisa berada dalam situasi yang sama, tetapi yang satu merasa hancur, sementara yang lain merasa sedang belajar.
Perbedaannya bukan pada kondisi, tetapi pada definisi.
Jika bahagia kamu definisikan sebagai “selalu berhasil”, maka setiap kegagalan terasa seperti kiamat pribadi. Jika bahagia kamu artikan sebagai “bertumbuh dan tetap sadar”, maka kegagalan berubah menjadi proses.
Masalahnya, kita jarang diajarkan mendefinisikan ulang kebahagiaan. Kita lebih sering diajarkan mengejarnya.
Di sinilah letak kekeliruannya. Kamu bukan gagal hidup. Kamu cuma memakai definisi yang salah.
Inna ma‘al-‘usri yusrā.
Artinya: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirāḥ [94]: 6)
Kesulitan bukan bukti kehancuran. Ia bagian dari pola kehidupan.
Jadi mungkin hari ini bukan tentang memperbaiki hidup, tapi memperbaiki cara memaknainya.
Halaman berikut (2/10):
“Standar Sosial dan Ilusi Kebahagiaan.”
Kita akan membedah bagaimana ekspektasi sosial membentuk definisi bahagia yang sempit.