Jangan Cari Tuhan Saat Panik Saja

Halaman 1 — Relasi yang Bersifat Musiman Antara Iman dan Kepanikan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Ada satu pola yang sering tidak kita sadari: kita mengingat Tuhan paling keras ketika hidup sedang runtuh. Saat bisnis goyah, saat hubungan retak, saat kesehatan terganggu, saat rasa takut menghimpit dada — barulah doa mengalir deras. Tangis menjadi panjang. Sujud menjadi lama. Janji-janji perubahan pun diucapkan dengan sungguh-sungguh.

Namun ketika badai berlalu, ketika keadaan kembali stabil, ketika rezeki lancar dan hati tenang, intensitas itu perlahan memudar. Doa kembali singkat. Dzikir kembali jarang. Sujud kembali biasa. Tanpa sadar, relasi dengan Tuhan berubah menjadi relasi musiman — aktif saat panik, pasif saat aman.

Dalam observasi sederhana terhadap perilaku religius masyarakat urban, terlihat pola konsisten: lonjakan ibadah terjadi saat krisis. Masjid ramai saat musibah. Doa viral saat bencana. Namun dalam masa stabil, spiritualitas cenderung menurun. Ini menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, Tuhan lebih sering dicari sebagai solusi darurat, bukan sebagai pusat hidup.

Wa idzā massa al-insāna ḍurrun da‘ā rabbahu munīban ilaih.

Artinya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar [39]: 8)

Ayat ini menggambarkan respons alami manusia: saat terdesak, ia kembali kepada Tuhan. Itu bukan kesalahan. Itu fitrah. Masalahnya bukan pada kembalinya — tetapi pada konsistensinya. Mengapa Tuhan terasa begitu dekat saat panik, tetapi terasa jauh saat lapang? Apakah Tuhan berubah? Tentu tidak. Yang berubah adalah tingkat kesadaran manusia.

Secara psikologis, krisis menyingkirkan distraksi. Saat panik, fokus manusia menyempit pada satu hal yang paling penting: keselamatan. Dalam kondisi itu, ego melemah, kesombongan runtuh, dan hati lebih jujur. Doa yang keluar saat panik sering kali lebih tulus karena ia lahir dari ketidakberdayaan. Namun ketika keadaan stabil, ego kembali menguat. Manusia merasa mampu, merasa cukup, merasa aman tanpa perlu terlalu bergantung.

Inilah paradoksnya: Tuhan tidak pernah menunggu kita panik untuk hadir. Tetapi manusia sering menunggu panik untuk mencari-Nya. Relasi yang sehat tidak dibangun hanya saat butuh. Relasi yang matang dibangun dalam stabilitas, dalam syukur, dalam keseharian yang tenang.

Artikel ini akan mengkaji secara ilmiah dan reflektif mengapa manusia cenderung mencari Tuhan hanya saat krisis, bagaimana pola ini terbentuk secara psikologis dan spiritual, serta bagaimana membangun relasi yang konsisten — bukan reaktif. Karena jika Tuhan hanya dicari saat panik, maka iman akan selalu fluktuatif mengikuti situasi.

Jangan cari Tuhan saat panik saja. Cari Dia saat tenang. Cari Dia saat berhasil. Cari Dia saat tidak ada masalah. Karena kedekatan sejati bukan dibangun dari rasa takut sesaat — tetapi dari kesadaran yang konsisten.


🌿 Jika kamu hanya mencari Tuhan saat badai datang, maka kamu akan selalu merasa sendiri saat langit cerah.

Halaman berikut (2/10): “Mengapa Krisis Membuat Iman Terlihat Lebih Kuat?”
Kita akan membedah faktor psikologis dan spiritual yang membuat doa saat panik terasa lebih dalam dibanding saat lapang.