Jangan Lawan Kekuranganmu, Arahkan
Bismillahirrahmanirrahim.
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad.
Sejak kecil kita sering diajarkan satu hal yang tampaknya benar, tetapi sering disalahpahami: kita harus melawan kekurangan kita. Kita harus menghilangkan kelemahan kita. Kita harus menjadi seseorang yang sempurna.
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar mulia. Namun dalam praktiknya, banyak orang justru tumbuh dengan perasaan tidak cukup. Mereka merasa hidupnya selalu salah. Mereka merasa dirinya penuh kekurangan yang harus disembunyikan.
Akibatnya, banyak orang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berperang dengan dirinya sendiri.
Ada yang marah pada sifat pemalunya. Ada yang benci pada dirinya yang terlalu sensitif. Ada yang terus menyalahkan dirinya karena merasa tidak cukup pintar, tidak cukup berani, atau tidak cukup berbakat.
Padahal sering kali masalahnya bukan pada kekurangan itu sendiri.
Masalahnya adalah arah.
Banyak orang berusaha menghancurkan bagian dirinya yang sebenarnya hanya perlu diarahkan. Mereka mencoba memaksa diri menjadi orang lain, bukan belajar memahami siapa dirinya sebenarnya.
Misalnya seseorang yang pendiam sering dianggap lemah. Padahal dalam banyak keadaan, sifat tenang justru menjadi kekuatan besar. Orang yang tidak banyak bicara biasanya lebih mampu mengamati, mendengar, dan memahami situasi dengan lebih jernih.
Begitu juga dengan orang yang sensitif. Dalam dunia yang penuh kompetisi keras, sensitivitas sering dianggap kelemahan. Padahal sensitivitas adalah dasar dari empati, kreativitas, dan kemampuan memahami perasaan orang lain.
Banyak hal yang kita sebut kekurangan sebenarnya hanyalah potensi yang belum menemukan tempatnya.
Al-Qurβan sendiri mengingatkan manusia bahwa setiap orang diciptakan dengan bentuk dan karakter yang berbeda.
"Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim."
Artinya: Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya tidak diciptakan sebagai makhluk yang gagal. Setiap manusia memiliki struktur kepribadian yang unik. Setiap orang memiliki kelebihan sekaligus keterbatasan yang membentuk jalan hidupnya sendiri.
Ketika seseorang terus memusuhi dirinya sendiri, ia sebenarnya sedang menolak cara Allah menciptakannya. Ia terus memaksa dirinya menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Inilah yang membuat banyak orang merasa lelah dengan hidupnya.
Bukan karena hidup terlalu berat, tetapi karena mereka terus berusaha menjadi orang yang bukan dirinya.
Padahal kehidupan tidak selalu menuntut kita menjadi sempurna. Kehidupan hanya menuntut kita memahami diri kita sendiri dengan lebih jujur.
Ketika seseorang mulai memahami kekurangannya, ia tidak lagi sibuk melawannya. Ia mulai mencari cara untuk mengarahkannya.
Sifat keras kepala bisa berubah menjadi keteguhan prinsip. Sifat terlalu banyak berpikir bisa berubah menjadi kedalaman analisis. Sifat pemalu bisa berubah menjadi kemampuan mendengar yang luar biasa.
Banyak tokoh besar dalam sejarah tidak lahir sebagai manusia sempurna. Mereka hanya belajar memahami dirinya, lalu mengarahkan kekurangannya ke tempat yang tepat.
Inilah yang sering tidak diajarkan oleh banyak sistem pendidikan: bagaimana memahami diri sendiri.
Nabi Muhammad SAW pernah memberikan pengingat yang sangat mendalam tentang pentingnya mengenal diri sendiri.
"Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu."
Artinya: Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.
Mengenal diri sendiri bukan sekadar memahami kelebihan kita. Mengenal diri sendiri berarti berani melihat kekurangan kita dengan jujur tanpa kebencian.
Karena dari situlah arah hidup mulai terlihat.
Kekurangan yang dipahami dengan benar tidak lagi menjadi penghalang. Ia justru menjadi kompas yang menunjukkan ke mana seseorang harus berjalan.
Kekurangan bukan selalu sesuatu yang harus dihancurkan. Kadang ia hanya perlu diarahkan. Ketika kita berhenti memusuhi diri sendiri, kita mulai menemukan jalan hidup yang lebih jujur dan lebih bermakna.