Jangan Mengutuk Badai Jika Kapalmu Terbuat dari Kertas Ekspektasi

Halaman 1 — Ketika Menyalahkan Dunia Padahal Kapalmu Rapuh


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbih.

Hampir setiap manusia pernah berada pada fase yang sama: merasa hidup ini kejam, dunia tidak adil, keadaan selalu menyudutkan, dan nasib seakan sengaja menghalangi langkah. Di titik inilah banyak orang mulai mengutuk badai — ekonomi, orang lain, sistem, bahkan Tuhan — tanpa pernah mengajukan satu pertanyaan paling jujur dalam hidupnya: kapal seperti apa yang sebenarnya sedang ia gunakan untuk berlayar?

Judul artikel ini bukan sekadar metafora puitis. Ia lahir dari pengamatan lapangan terhadap pola kegagalan hidup modern: manusia ingin menaklukkan samudra besar, tetapi berlayar dengan kapal ekspektasi yang dibangun dari asumsi, gengsi, dan harapan instan. Ketika kapal itu hancur diterjang realitas, yang disalahkan bukan desainnya, melainkan badai yang memang sejak awal tidak pernah ramah.

Dalam pendekatan psikologi kognitif dan filsafat praktis, ekspektasi adalah konstruksi mental yang menentukan bagaimana realitas dimaknai. Ekspektasi yang sehat lahir dari kesadaran diri dan kesiapan proses. Namun ekspektasi rapuh lahir dari perbandingan sosial, ilusi kesuksesan cepat, dan keyakinan bahwa hidup seharusnya selalu sesuai rencana pribadi.

Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā.

Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Ayat ini sering dipahami sebagai penghiburan, padahal ia juga mengandung pesan korektif: jika beban terasa terlalu berat, bisa jadi bukan beban itu yang keliru, melainkan kapal mental yang kita bangun tidak sepadan dengan laut kehidupan yang kita pilih.

Innamal-a‘mālu bin-niyyāt.

Artinya: “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niat bukan sekadar orientasi spiritual, tetapi fondasi psikologis dari setiap ekspektasi. Ekspektasi yang tidak dibangun dari niat jujur dan kesiapan sadar akan melahirkan kekecewaan berulang, karena ia menuntut hasil besar tanpa struktur yang kokoh.

Artikel ini tidak akan mengajakmu menyalahkan dunia, apalagi mengutuk badai. Ia justru mengajakmu melakukan audit paling jarang dilakukan manusia: membedah kapal ekspektasi sendiri, sebelum kembali berlayar di laut yang sama.

🌿 Kedewasaan hidup tidak lahir dari laut yang tenang, tetapi dari keberanian mengakui bahwa kapal kitalah yang selama ini perlu diperbaiki.

Halaman berikut (2/10): “Ekspektasi: Antara Harapan Sehat dan Jerat Psikologis.”
Kita akan membedah bagaimana ekspektasi terbentuk, kapan ia menjadi kekuatan hidup, dan kapan ia justru menjadi sumber luka batin.