Halaman 1 — Ilusi Cinta atau Ilusi Diri? Saat Bahagia Diserahkan Tanpa Sadar
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
“Aku bahagia karena dia.” Kalimat ini terdengar romantis, sederhana, bahkan suci di telinga banyak orang. Ia sering dijadikan standar keberhasilan sebuah hubungan. Namun jika dianalisis melalui pendekatan psikologi relasi dan kajian pustaka tentang ketergantungan emosional, kalimat ini menyimpan potensi distorsi makna. Dalam beberapa penelitian lapangan mengenai hubungan interpersonal, ditemukan bahwa individu yang menggantungkan stabilitas emosionalnya sepenuhnya pada pasangan menunjukkan kecenderungan anxiety attachment, rasa takut ditinggalkan, serta kehilangan otonomi dalam pengambilan keputusan. Bahagia tidak lagi bersumber dari kesadaran diri, melainkan menjadi reaksi terhadap validasi eksternal.
Dalam perspektif spiritual, kebahagiaan sejati bukanlah produk dari satu makhluk. Ia adalah kondisi batin yang tumbuh dari hubungan yang lurus antara manusia dan Tuhan. Ketika pusat bahagia dipindahkan dari Allah kepada manusia, maka lahirlah ketidakseimbangan eksistensial. Cinta berubah menjadi ketergantungan; perhatian berubah menjadi kebutuhan; dan kehilangan berubah menjadi kehancuran identitas.
Wa minan-nāsi man yattakhidzu min dūnillāhi andādan yuḥibbūnahum kaḥubbillāh. Walladzīna āmanū asyaddu ḥubban lillāh.
Artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 165)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang penyembahan berhala secara fisik, tetapi juga tentang berhala psikologis. Segala sesuatu yang dijadikan pusat cinta dan sumber makna melebihi Allah berpotensi menjadi “tandingan”. Jika satu manusia menjadi satu-satunya alasan kita merasa hidup, maka tanpa sadar kita telah menyerahkan kedaulatan batin kepada makhluk yang sama rapuhnya dengan kita.
Secara ilmiah, fenomena ini disebut emotional dependency — kondisi di mana individu tidak mampu merasakan kesejahteraan tanpa keberadaan figur tertentu. Dalam jangka panjang, pola ini menghasilkan relasi yang timpang. Satu pihak merasa terbebani menjadi “penyelamat”, sementara pihak lain merasa tidak utuh tanpa kehadiran pasangannya. Cinta seperti ini bukan cinta yang matang, melainkan relasi yang dibangun di atas rasa takut kehilangan.
Artikel ini menggunakan metode kajian pustaka terhadap literatur psikologi cinta dan tafsir ayat-ayat tentang ketergantungan hati, serta refleksi fenomenologis terhadap dinamika relasi modern. Tujuannya adalah membedakan antara cinta yang memerdekakan dan cinta yang menyandera. Karena cinta sejati tidak pernah mencabut kedaulatan jiwa. Ia menumbuhkan, bukan menawan.
Maka pertanyaannya bukan “Apakah aku mencintainya?” tetapi “Apakah aku masih menjadi diriku ketika mencintainya?” Jika kebahagiaanmu runtuh hanya karena satu manusia berubah sikap, mungkin yang sedang runtuh bukan cinta — melainkan fondasi dirimu sendiri.
Halaman berikut (2/10): “Psikologi Ketergantungan Emosional dalam Relasi Modern.”
Kita akan membedah secara ilmiah bagaimana ketergantungan terbentuk dan mengapa ia sering disalahartikan sebagai cinta sejati.