Halaman 1 — Ketika Cinta Menghapus Identitas Hook Awal Refleksi Relasional
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli Sayyidinā Muḥammad.
Ada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan dengan jujur: jika kamu harus mengubah prinsip, menekan suara hati, dan meninggalkan jati diri demi mempertahankan seseorang — apakah itu masih bisa disebut cinta?
Dalam banyak relasi, pengorbanan dianggap bukti kedalaman perasaan. Semakin besar yang dikorbankan, semakin dianggap tulus. Namun dalam perspektif psikologi relasional dan etika spiritual, pengorbanan yang menghapus identitas justru menjadi tanda bahaya.
Kehilangan diri bukanlah bentuk cinta, melainkan bentuk ketakutan. Takut ditinggalkan. Takut sendirian. Takut dianggap tidak cukup.
Individu yang belum memiliki fondasi harga diri yang kokoh cenderung menyesuaikan diri secara berlebihan. Ia berkata “ya” ketika sebenarnya ingin berkata “tidak”. Ia tersenyum ketika sebenarnya terluka. Ia mengalah bukan karena bijak, tetapi karena takut kehilangan.
Dalam pendekatan penelitian pustaka mengenai dinamika hubungan toksik, ditemukan bahwa hilangnya identitas pribadi adalah salah satu indikator awal ketergantungan emosional. Seseorang berhenti menjadi dirinya sendiri demi mempertahankan validasi dari pasangan.
Wa lā tabkhasun-nāsa asy-yā’ahum.
Artinya: “Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya.” (QS. Al-A‘rāf [7]: 85)
Jika merugikan orang lain adalah bentuk kezaliman, maka merugikan diri sendiri demi mempertahankan relasi juga merupakan bentuk ketidakadilan terhadap diri.
Cinta yang sehat seharusnya memperkuat identitas, bukan menghapusnya. Ia menumbuhkan keberanian untuk menjadi diri sendiri, bukan memaksa seseorang memakai topeng demi diterima.
Artikel ini akan mengkaji secara ilmiah dan reflektif bagaimana cinta bisa berubah menjadi ruang kehilangan diri, serta bagaimana membedakan antara pengorbanan yang bijak dan pengorbanan yang merusak.
Sebab jika sebuah hubungan menuntutmu untuk berhenti menjadi dirimu sendiri, mungkin yang sedang kamu pertahankan bukan cinta — melainkan ketakutan.
Halaman berikut (2/10):
“Pengorbanan: Antara Kebijaksanaan dan Kehancuran.”
Kita akan membedakan pengorbanan yang sehat dan pengorbanan yang lahir dari ketakutan.