Halaman 1 — Saat Suara Menghilang Dan Rakyat Kehilangan Wakilnya
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi dampaknya mengerikan: kalau LSM diam, siapa yang akan berteriak untuk rakyat? Bukan pejabat yang sedang mengamankan citra, bukan elite yang sibuk menjaga stabilitas, dan sering kali bukan pula sistem formal yang bergerak lambat. Dalam banyak kasus, ketika suara LSM padam, yang tersisa hanyalah kesunyian administratif yang menelan penderitaan warga tanpa saksi.
Sejarah kebijakan publik menunjukkan satu pola berulang: pelanggaran hak jarang berhenti karena belas kasihan kekuasaan. Ia berhenti karena ada yang bersuara, mencatat, melaporkan, dan menekan agar kebenaran tidak dikubur di balik dokumen resmi. Di titik inilah LSM mengambil peran yang tidak populer, sering tidak aman, dan nyaris tidak menguntungkan.
Namun hari ini, pertanyaan yang lebih jujur perlu diajukan: mengapa banyak LSM memilih diam? Apakah karena isu sudah selesai, atau karena risiko berbicara semakin mahal? Di tengah regulasi yang menekan, stigma yang melekat, dan ancaman hukum yang menggantung, diam sering kali terlihat sebagai pilihan rasional untuk bertahan hidup.
Masalahnya, diamnya LSM bukan ruang kosong. Ia diisi oleh narasi sepihak, oleh statistik tanpa konteks, dan oleh kebijakan yang tampak rapi tetapi menyisakan luka di lapangan. Ketika tidak ada yang berteriak, ketidakadilan berubah menjadi rutinitas. Dan yang paling berbahaya, rakyat perlahan belajar bahwa penderitaan mereka tidak cukup penting untuk diperjuangkan.
Wa lā taktumu syahādah, wa man yaktumhā fa innahū ātsimun qalbuh.
Artinya: “Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian; barang siapa menyembunyikannya, maka sungguh, hatinya berdosa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 283)
Ayat ini menempatkan kesaksian sosial sebagai kewajiban moral, bukan pilihan strategis. Ketika LSM diam bukan karena kebenaran hilang, melainkan karena takut pada konsekuensi, yang dikorbankan bukan hanya reputasi organisasi, tetapi hak rakyat untuk didengar.
Man ra’ā minkum munkaran fal-yughayyirhu biyadih, fa in lam yastaṭi‘ fa bilisānih, fa in lam yastaṭi‘ fa biqalbih.
Artinya: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan hirarki tanggung jawab moral. Ketika tangan dibatasi, dan lisan dibungkam, diam di hati bukan solusi jangka panjang. Ia hanya menunda akumulasi kerusakan. Maka pertanyaan di judul artikel ini bukan sekadar retorika, melainkan panggilan refleksi: apa yang terjadi pada demokrasi ketika semua yang bisa bersuara memilih untuk tidak bersuara?
Halaman-halaman berikut akan membedah konsekuensi struktural dari diamnya LSM, siapa yang diuntungkan, siapa yang dirugikan, dan mengapa suara rakyat tidak boleh sepenuhnya bergantung pada keberanian segelintir orang.
Halaman berikut (2/10): “Harga dari Sebuah Keheningan: Siapa yang Diuntungkan?”
Kita akan mengurai siapa yang paling diuntungkan
ketika suara masyarakat sipil memilih diam.