Halaman 1 — Ketika Dunia Terasa Kosong Masih Ada Tuhan yang Tidak Pernah Pergi
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Ada masa dalam hidup manusia ketika semuanya terasa runtuh secara bersamaan. Usaha yang dibangun bertahun-tahun tiba-tiba berhenti. Relasi yang dulu terasa kuat mendadak menjauh. Harapan yang selama ini dijaga perlahan memudar tanpa kita sempat memahami mengapa semuanya berubah begitu cepat.
Pada titik seperti itu, manusia sering merasa hidupnya kosong. Dunia yang dulu terasa penuh kemungkinan tiba-tiba berubah menjadi ruang sunyi yang membingungkan. Banyak orang bertanya dalam hati: *mengapa semua ini terjadi?* Bahkan sebagian mulai merasa seolah Tuhan meninggalkan dirinya.
Namun jika kita membaca sejarah kehidupan para nabi, para ulama, dan bahkan perjalanan hidup manusia biasa di berbagai zaman, kita menemukan satu pola yang menarik. Titik paling gelap dalam hidup sering kali bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari kesadaran yang baru. Banyak manusia justru menemukan makna hidupnya setelah kehilangan sesuatu yang selama ini mereka anggap paling penting.
Dalam perspektif spiritual Islam, kehilangan tidak selalu berarti kehancuran. Kadang ia adalah cara Tuhan membersihkan jalan hidup manusia dari sesuatu yang tidak lagi baik baginya. Dunia memang memberi kita banyak sandaran: pekerjaan, kekayaan, status sosial, atau pengakuan orang lain. Tetapi semua itu bersifat sementara.
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā.
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)
Ayat ini menjelaskan satu prinsip penting dalam kehidupan: setiap ujian memiliki ukuran yang sesuai dengan kemampuan manusia. Tuhan tidak pernah menguji manusia untuk menghancurkannya. Ujian justru sering menjadi jalan agar manusia menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi dalam dirinya.
‘Ajaban li amril-mu’min, inna amrahu kullahu lahu khair.
Artinya: “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, karena seluruh urusannya adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim)
Hadis ini memberikan cara pandang yang sangat berbeda terhadap kehidupan. Bagi seorang mukmin, bahkan peristiwa yang terlihat buruk sekalipun bisa menjadi kebaikan dalam jangka panjang. Kehilangan kadang hanyalah pintu menuju sesuatu yang lebih besar yang belum mampu kita lihat sekarang.
Karena itu, ketika semua terasa hilang, sebenarnya satu hal tetap ada dan tidak pernah berubah: Tuhan. Dunia bisa datang dan pergi. Harta bisa bertambah dan berkurang. Manusia bisa mendekat lalu menjauh. Tetapi hubungan manusia dengan Tuhannya adalah satu-satunya sandaran yang tidak pernah runtuh.
Mā wadda‘aka rabbuka wa mā qalā.
Artinya: “Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.” (QS. Ad-Duḥā: 3)
Kalimat ini turun untuk menenangkan hati Nabi Muhammad ketika beliau mengalami masa yang terasa berat. Pesannya sangat jelas: bahkan ketika manusia merasa sendirian, Tuhan tetap ada. Kehadiran-Nya tidak pernah bergantung pada keadaan dunia.
Maka jika suatu hari hidup terasa runtuh, ingatlah satu hal sederhana namun sangat dalam maknanya: selama Tuhan masih ada dalam hidupmu, sebenarnya tidak ada yang benar-benar hilang.
Halaman berikut (2/10): “Mengapa Manusia Baru Mengingat Tuhan Saat Kehilangan?”
Kita akan menelusuri mengapa krisis hidup sering menjadi titik awal kebangkitan spiritual manusia.