Kamu Bukan Overthinking, Kamu Kurang Action

Halaman 1 — Kamu Bukan Overthinking Kamu Kurang Action


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

“Aku overthinking.” Kalimat ini sekarang jadi tameng paling populer. Setiap kali ragu memulai, setiap kali takut gagal, setiap kali ide hanya berhenti di kepala — kita menyebutnya overthinking. Seolah-olah masalahnya ada pada pikiran yang terlalu aktif. Padahal, jujur saja, sering kali bukan karena terlalu banyak berpikir. Tapi karena terlalu sedikit bergerak.

Dalam psikologi kognitif, overthinking dikenal sebagai rumination — pola berpikir berulang tanpa menghasilkan solusi konkret. Namun penelitian juga menunjukkan bahwa rumination sering muncul ketika seseorang tidak mengambil langkah nyata. Pikiran menjadi berputar-putar karena tidak ada aksi yang memecah kebuntuan. Jadi pertanyaannya: apakah kamu benar-benar overthinking, atau kamu hanya menunda action?

Banyak orang merasa terjebak dalam kecemasan sebelum memulai. Mereka ingin bisnisnya sempurna dulu. Ingin skill-nya matang dulu. Ingin kondisi ideal dulu. Padahal hidup tidak pernah menunggu kesiapan yang sempurna. Action-lah yang sering kali menciptakan kejelasan, bukan sebaliknya.

Fa idzā ‘azamta fatawakkal ‘alallāh.

Artinya: “Apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 159)

Ayat ini singkat tapi tegas. Ada fase berpikir, ada fase mempertimbangkan. Tapi setelah tekad bulat, yang diminta adalah bergerak dan bertawakal. Tidak ada perintah untuk terus menimbang tanpa henti.

Secara neurologis, tindakan kecil bisa memutus siklus kecemasan. Ketika seseorang mulai melakukan sesuatu — sekecil apa pun — otak berpindah dari mode ancaman ke mode penyelesaian. Artinya, action bukan hanya soal hasil. Ia adalah terapi untuk pikiran yang terlalu penuh.

Iḥriṣ ‘alā mā yanfa‘uka, wasta‘in billāhi wa lā ta‘jaz.

Artinya: “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.” (HR. Muslim)

“Jangan lemah” di sini bukan soal fisik saja. Ia juga tentang mental yang terlalu lama berdiam di ruang ragu. Self improvement bukan dimulai dari motivasi besar, tapi dari keberanian mengambil satu langkah kecil.

Artikel ini akan membedah secara ilmiah dan spiritual: kapan overthinking itu nyata, dan kapan itu hanya alasan yang kita pakai untuk menunda. Karena bisa jadi, yang kamu butuhkan bukan ketenangan pikiran dulu — tapi keberanian untuk mulai.


🌿 Kadang pikiran terasa penuh bukan karena terlalu banyak ide — tapi karena terlalu sedikit langkah.

Halaman berikut (2/10): “Overthinking: Antara Fakta Psikologis dan Alasan yang Dibesar-besarkan.”