Halaman 1 — Kesadaran yang Terlupa Mukjizat yang Bernama Hidup
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Kita sering menganggap hidup sebagai sesuatu yang biasa. Bangun pagi, bernapas, berjalan, berbicara, berpikir — semua terasa otomatis. Namun justru karena terasa biasa, kita lupa betapa luar biasanya itu semua. Kita lebih mudah melihat kekurangan daripada keajaiban. Lebih cepat mengeluh tentang yang belum tercapai daripada mensyukuri fakta paling mendasar: kita masih hidup.
Coba bayangkan sejenak betapa kompleksnya tubuhmu bekerja tanpa kamu sadari. Jantung berdetak ribuan kali setiap hari tanpa pernah kamu perintahkan. Paru-paru mengembang dan mengempis tanpa kamu sadari. Otak memproses jutaan informasi dalam hitungan detik. Jika satu saja sistem ini berhenti, hidup berubah drastis. Dan semua itu terjadi bukan karena kebetulan, melainkan karena kehendak dan rahmat Allah.
Ironisnya, manusia baru menyadari nilai hidup ketika ia hampir kehilangan. Saat sakit datang. Saat musibah mengetuk. Saat napas terasa berat. Padahal setiap hari yang kita jalani sebenarnya adalah bukti nyata bahwa kita sedang diberi kesempatan baru.
Alam naj‘al lahu ‘aynayn. Wa lisānan wa syafatayn. Wa hadaynāhun-najdayn.
Artinya: “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua mata, lidah dan dua bibir, dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan?”
(QS. Al-Balad [90]: 8–10)
Ayat ini seolah mengingatkan bahwa keberadaan kita bukanlah hal sepele. Mata untuk melihat. Lisan untuk berbicara. Akal untuk memilih jalan. Semua adalah anugerah. Dan setiap anugerah adalah tanda bahwa hidup itu sendiri adalah mukjizat yang terus berlangsung.
Mukjizat sering kita bayangkan sebagai sesuatu yang spektakuler — laut terbelah, tongkat menjadi ular, bulan terbelah. Padahal ada mukjizat yang lebih dekat dan lebih nyata: kamu masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri hari ini. Kamu masih punya waktu untuk meminta maaf. Kamu masih bisa memulai ulang. Kamu masih bisa berubah.
Dalam perspektif ilmiah sekalipun, probabilitas kelahiran seseorang sangatlah kecil. Dari jutaan kemungkinan biologis, kamu yang terpilih untuk lahir. Dari ribuan risiko kehidupan, kamu yang bertahan hingga detik ini. Itu bukan kebetulan. Itu adalah rahasia takdir yang tidak semua orang sadari.
Maka sebelum kamu merasa hidupmu kurang berarti, berhentilah sejenak dan sadari satu fakta sederhana namun dahsyat: kamu hidup. Dan itu saja sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur, bangkit, dan melangkah.
Halaman berikut (2/10):
“Dari Setetes Air Menjadi Manusia.”
Kita akan menelusuri betapa mustahilnya proses penciptaan manusia — dan mengapa keberadaanmu bukan kebetulan.