Halaman 1 — Antara Rusak dan Proses Membaca Diri dengan Jujur
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Ada fase dalam hidup ketika seseorang merasa dirinya gagal total. Target tidak tercapai. Relasi berantakan. Emosi tidak stabil. Lalu kesimpulan cepat muncul: “Aku rusak.” Padahal sering kali yang terjadi bukan kerusakan, melainkan proses yang belum selesai.
Artikel ini disusun dengan pendekatan studi pustaka psikologi perkembangan dan refleksi spiritual, untuk menguji satu tesis utama: kondisi rapuh bukan tanda kehancuran permanen, melainkan fase pembentukan yang belum matang. Dalam psikologi, pertumbuhan manusia bersifat bertahap. Tidak ada pribadi yang matang secara instan.
Banyak orang menilai dirinya berdasarkan kondisi sementara. Ketika sedang lemah, ia merasa tidak berharga. Ketika sedang gagal, ia merasa tidak kompeten. Padahal fase hidup tidak bersifat final. Seperti bahan mentah di pabrik, ia harus melalui tahapan pengolahan sebelum menjadi produk yang utuh.
Dalam psikologi perkembangan, Erik Erikson menjelaskan bahwa manusia melewati krisis identitas di setiap tahap hidupnya. Krisis bukan tanda kegagalan, melainkan tanda transisi. Individu yang mampu melewati fase ini akan memiliki struktur kepribadian yang lebih kuat.
Secara spiritual, manusia juga dipahami sebagai makhluk yang sedang dibentuk. Allah berfirman:
Khalaqal-insāna fī aḥsani taqwīm.
Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tīn [95]: 4)
Ayat ini menegaskan bahwa secara hakikat, manusia tidak diciptakan dalam keadaan rusak. Namun perjalanan hidupnya bisa penuh ujian dan pembelajaran. Yang terlihat berantakan sering kali hanyalah tahap pengolahan.
Bayangkan logam yang ditempa menjadi pedang. Ia dipukul, dipanaskan, dibentuk berulang kali. Jika logam itu bisa berbicara, mungkin ia akan berkata, “Aku dihancurkan.” Padahal ia sedang diperkuat.
Banyak orang menyerah di tengah proses karena mengira rasa sakit adalah tanda kegagalan. Mereka berhenti belajar, berhenti mencoba, dan memilih mengunci diri dalam label “rusak”. Padahal belum selesai diproses bukan berarti gagal — itu berarti sedang dibentuk.
Halaman pertama ini mengajak pembaca untuk mengubah narasi tentang dirinya sendiri. Alih-alih berkata, “Aku rusak,” mungkin lebih tepat berkata, “Aku sedang dalam tahap pembentukan.” Perubahan narasi ini sederhana, tetapi dampaknya besar terhadap harapan dan ketahanan mental.
Halaman berikut (2/10): “Psikologi Proses: Mengapa Pertumbuhan Selalu Tidak Nyaman.”
Kita akan membedah mengapa fase pembentukan sering terasa seperti kehancuran.