Halaman 1 — Rasa Sepi yang Salah Dipahami Kesendirian atau Kehilangan Kesadaran?
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Ada fase dalam hidup ketika kamu merasa sendirian. Bukan karena benar-benar tidak ada orang di sekitarmu, tetapi karena tidak ada yang benar-benar “mengerti” apa yang sedang kamu rasakan. Kamu bisa berada di tengah keramaian dan tetap merasa kosong. Kamu bisa dikelilingi keluarga, teman, bahkan pasangan, tetapi tetap merasa seperti berjalan sendirian.
Dalam kajian psikologi modern, perasaan kesepian bukan selalu tentang absennya manusia lain. Ia lebih sering tentang absennya koneksi makna. Seseorang bisa merasa sangat kesepian ketika ia kehilangan arah, kehilangan tujuan, atau kehilangan kesadaran akan nilai dirinya. Artinya, kesepian sering kali bukan masalah eksternal, melainkan krisis internal.
Namun ada satu dimensi yang sering terlupakan. Ketika kamu merasa sendiri, apakah benar kamu sendiri? Atau kamu hanya lupa bahwa ada Zat yang selalu hadir bahkan ketika semua orang pergi?
Wa huwa ma‘akum ayna mā kuntum.
Artinya: “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. Al-Ḥadīd [57]: 4)
Ayat ini sederhana, tetapi revolusioner. Ia membongkar asumsi dasar tentang kesendirian. Jika Tuhan bersama kita di mana pun kita berada, maka kesendirian total secara spiritual sebenarnya tidak pernah ada. Yang ada hanyalah kelupaan. Kita lupa bahwa kehadiran-Nya tidak tergantung pada suasana hati kita.
Banyak orang merasa sendirian bukan karena ditinggalkan, tetapi karena kehilangan kesadaran akan kehadiran ilahi. Ketika doa terasa tidak dijawab, ketika usaha belum terlihat hasilnya, ketika dunia seakan diam — manusia menyimpulkan: “Aku sendirian.” Padahal yang terjadi sering kali adalah jarak antara kesadaran dan keyakinan.
Dalam penelitian tentang resilience spiritual, individu yang memiliki kesadaran transenden — kesadaran bahwa ada kekuatan lebih besar yang menyertainya — menunjukkan tingkat ketahanan stres yang lebih tinggi. Mereka mungkin tetap merasakan sedih, tetapi tidak merasa hancur. Mereka mungkin tetap merasa lelah, tetapi tidak merasa kosong.
Maka mungkin masalahnya bukan bahwa kamu sendirian. Mungkin kamu hanya lupa. Lupa bahwa setiap napas adalah bukti pemeliharaan. Lupa bahwa setiap ujian datang bersama pengawasan. Lupa bahwa bahkan dalam gelap, ada cahaya yang tidak pernah padam.
Artikel ini tidak akan menghiburmu dengan kalimat klise. Kita akan membedah secara jujur: mengapa manusia merasa sendiri, bagaimana mekanisme psikologisnya bekerja, dan bagaimana cara membangun kembali kesadaran bahwa kamu tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Halaman berikut (2/10): “Psikologi Kesepian: Ketika Otak Salah Menafsirkan Realitas.”
Kita akan melihat bagaimana rasa sepi terbentuk dan mengapa ia terasa begitu nyata.