Halaman 1 — Ilusi Ketertinggalan Ketika Timeline Menghantui Pikiran
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Pernah merasa seperti ini? Teman-temanmu sudah melesat: karier naik, bisnis jalan, keluarga mapan. Sementara kamu masih di titik yang sama—atau setidaknya terasa begitu. Rasanya seperti semua orang sedang berlari, dan kamu berdiri sendirian di garis start. Pikiran mulai berbisik: “Aku ketinggalan.” Tapi benarkah kamu tertinggal? Atau kamu hanya sedang berada di fase yang belum selesai?
Dalam kajian psikologi sosial, fenomena ini dikenal sebagai social comparison. Manusia secara alami membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemajuan. Namun di era digital, perbandingan ini menjadi tidak proporsional. Kita melihat pencapaian orang lain setiap hari—tanpa melihat proses, kegagalan, dan perjuangan yang mendahuluinya. Kita membandingkan proses mentah kita dengan hasil akhir mereka.
Akibatnya, muncul kesimpulan cepat: “Aku tertinggal.” Padahal bisa jadi, kamu hanya berada di fase pembentukan. Dalam perspektif perkembangan manusia, setiap individu memiliki timeline berbeda—dipengaruhi oleh latar belakang, kesiapan mental, peluang, dan takdir yang menyertainya.
Al-Qur’an menegaskan bahwa pembagian kehidupan manusia memang berbeda:
Naḥnu qasamnā bainahum ma‘īsyatahum fil-ḥayātid-dunyā.
Artinya: “Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 32)
Ayat ini menunjukkan bahwa fase hidup bukan sekadar hasil usaha manusia, tetapi bagian dari pembagian Ilahi. Jika Allah sendiri yang menakar ritme dan momentum hidup, maka merasa tertinggal hanya karena melihat kecepatan orang lain adalah kesimpulan yang terburu-buru.
Bahkan dalam prinsip spiritual, Allah tidak membebani seseorang melebihi kapasitasnya:
Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā.
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)
Jika beban saja disesuaikan dengan kapasitas, maka proses pun demikian. Bisa jadi kamu belum berada di fase yang sama karena Allah sedang membentuk kapasitasmu terlebih dahulu. Dan proses pembentukan memang jarang terlihat glamor.
Artikel ini akan membedah secara ilmiah dan spiritual mengapa rasa tertinggal terasa nyata, bagaimana ia memengaruhi mental, dan bagaimana mengubah perspektif: dari merasa tertinggal menjadi sadar bahwa kamu sedang berproses.
Karena bisa jadi, kamu tidak tertinggal. Kamu hanya sedang ditempa. Dan penempaan selalu terjadi sebelum puncak terlihat.
Halaman berikut (2/10): “Mengapa Rasa Tertinggal Terasa Begitu Nyata?”