Kaya, Berkuasa, Tapi Tetap Taat: Mindset Sultan Ala Nabi Sulaiman

Halaman 1 — Ketundukan Sultan Hati yang Tidak Tergoda Kekuasaan


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Banyak orang bermimpi ingin kaya, sukses, dan berpengaruh. Tetapi sedikit yang memikirkan: bagaimana agar kekayaan tidak memperbudak jiwa, bagaimana agar kekuasaan tidak merusak hati, dan bagaimana agar kedudukan tidak melahirkan keangkuhan. Dalam kajian ilmu akhlak dan tafsir, hanya ada satu sosok yang menjadi puncak contoh: Nabi Sulaiman ‘alaihissalam.

Penelitian pustaka dalam literatur tafsir klasik menunjukkan bahwa Sulaiman adalah figur yang memiliki “potensi bahaya dunia” paling besar: kerajaan yang luas, pasukan jin, kontrol terhadap angin, logistik luar biasa, dan kekayaan yang melebihi seluruh raja pada masanya. Namun penelitian lapangan terhadap teks Al-Qur’an menunjukkan hal mengejutkan: tidak ada satu pun ayat yang menggambarkan Sulaiman sebagai sosok sombong.

Rabbi auzi‘nī an asykura ni‘mataka allatī an‘amta ‘alaiya wa ‘alā wālidayya wa an a‘mala ṣāliḥan tarḍāh.

Artinya: “Ya Tuhan, bimbinglah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai.” (QS. An-Naml [27]: 19)

Inilah inti dari mindset “sultan taat” ala Nabi Sulaiman: semakin tinggi kekuasaan, semakin rendah dirinya di hadapan Allah. Dalam epistemologi Islam, ini disebut tawāḍu‘ di atas nikmat— sebuah level spiritual yang hanya dimiliki oleh hamba pilihan.

Sulaiman tidak pernah meminta kekuasaan untuk prestise pribadi. Ia memintanya sebagai amanah untuk menegakkan kebenaran. Bahkan dalam permohonan kekuasaan legendarisnya, ia tidak meminta kekayaan; ia meminta agar Allah menjadikannya lebih taat ketika kekuasaan itu diberikan. Inilah alasan kenapa dia tetap lurus meski menjadi raja paling berpower dalam sejarah manusia.


👑 Mindset Sulaiman itu sederhana: semakin banyak yang Allah titipkan, semakin dalam ia tunduk.

Halaman berikut (2/10):
“Kekuatan, Kekayaan, dan Kekuasaan: Struktur Kepemimpinan Sulaiman Menurut Tafsir.”