Kebaikan + Ketegasan = Kombinasi Rusia Membesarkan Anak yang Tidak Bisa Dibully

Halaman 1 — Kebaikan yang Tegas


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad.

Banyak orang tua ingin anaknya baik hati. Sebagian ingin anaknya tegas dan berani. Namun sedikit yang sadar bahwa kebaikan tanpa ketegasan justru melahirkan kerentanan. Anak yang terlalu baik tetapi tidak tegas sering menjadi sasaran empuk perundungan. Sebaliknya, ketegasan tanpa kebaikan melahirkan pribadi yang keras dan berjarak. Parenting Rusia tidak memilih salah satu. Mereka menggabungkan keduanya.

Dalam budaya Rusia, kebaikan tidak pernah dipisahkan dari kekuatan batin. Anak diajarkan untuk bersikap sopan, menghormati orang lain, dan membantu yang lemah. Namun pada saat yang sama, mereka dilatih menjaga batas, berbicara tegas, dan berdiri tegak ketika diperlakukan tidak adil. Kombinasi inilah yang membuat anak Rusia sulit dibully—bukan karena menakutkan, tetapi karena jelas.

Anak yang tidak bisa dibully bukan anak yang galak. Ia adalah anak yang tahu siapa dirinya dan apa yang tidak boleh dilewati orang lain. Parenting Rusia membangun kesadaran ini sejak dini melalui bahasa tubuh, intonasi suara, dan konsistensi sikap. Anak belajar bahwa bersikap baik tidak berarti membiarkan diri diinjak, dan bersikap tegas tidak berarti kehilangan empati.

Dari sudut pandang psikologi sosial, pelaku perundungan mencari target yang tampak ragu, tidak konsisten, dan sulit menetapkan batas. Anak yang memancarkan kejelasan—tenang, tegas, dan tidak reaktif—cenderung dihindari. Rusia membentuk kejelasan ini bukan dengan mengajarkan balasan agresif, melainkan dengan latihan keberanian yang terkendali.

Islam memandang kebaikan sebagai akhlak utama, namun juga menekankan izzah—kehormatan diri yang tidak boleh direndahkan. Kebaikan sejati bukan kelemahan; ia adalah kekuatan yang berakar pada prinsip. Nilai ini selaras dengan pendekatan Rusia yang membesarkan anak berakhlak tanpa menjadikannya korban.

Wa lā tahinū wa lā taḥzanū wa antumul-a‘lawna in kuntum mu’minīn.

Artinya: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 139)

Ayat ini menegaskan bahwa kelembutan tidak identik dengan kelemahan. Anak yang dibesarkan dengan kebaikan dan ketegasan akan membawa izzah dalam sikapnya. Ia tidak perlu berteriak untuk dihormati, dan tidak perlu menyakiti untuk menjaga diri.

🌿 Anak yang sulit dibully bukan yang keras, tetapi yang jelas batas dan tenang sikapnya.

Halaman berikut (2/10): “Mengapa Anak Baik Sering Jadi Target — dan Cara Menghentikannya.”
Kita akan membedah kesalahan umum pengasuhan yang tanpa sadar melemahkan anak baik.