Halaman 1 — Bukan Soal Uang Tapi Soal Nilai Diri yang Tidak Bisa Dibeli
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allahumma salli wa sallim wa barik 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa sahbihi ajma'in
Selama ini, manusia diajari bahwa kekayaan terbesar adalah uang. Lebih kaya, lebih nyaman. Lebih kaya, lebih aman. Lebih kaya, lebih dihormati. Itulah doktrin sosial yang diulang-ulang sejak kecil—hingga banyak orang mengira nilai manusia ditentukan oleh harta yang ia miliki. Padahal, ada kekayaan yang jauh lebih menentukan masa depan seseorang di dunia maupun di akhirat: kebajikan. Harta bisa datang dan pergi, jabatan bisa naik dan turun, nasib ekonomi bisa berubah kapan saja. Tapi kebajikan adalah satu-satunya aset yang membuat hidup seseorang tetap “mahal” meski ia jatuh, miskin, gagal, atau diuji berkali-kali.
Lihat kenyataannya: ada orang kaya raya tapi tidak dihormati; ada orang berjabatan tinggi tapi tidak dipercaya; ada orang berpengetahuan luas tapi tidak disukai. Kenapa? Karena yang membuat manusia layak dihargai bukan apa yang ia punya di luar, tapi apa yang ia miliki di dalam: integritas, empati, kejujuran, kesetiaan, dan hati yang mulia. Kebajikan adalah mata uang sosial tertinggi yang menentukan apakah seseorang dicintai, dihormati, dipercayai, dan didoakan orang lain ketika ia tiada. Dan sebaliknya, kehilangan kebajikan berarti kehilangan segalanya — bahkan jika kekayaan materi masih ada di tangan.
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah 2:195)
Ayat ini menjadi penegas bahwa kebajikan bukan sekadar tindakan sosial; ia adalah tanda cinta Allah kepada hamba-Nya. Uang tidak menjamin cinta Allah. Jabatan tidak menjamin cinta Allah. Popularitas tidak menjamin cinta Allah. Yang menjamin hanyalah kebajikan. Maka siapa pun yang mengumpulkan kebajikan, sebenarnya sedang mengumpulkan bentuk kekayaan yang paling tinggi nilainya — kekayaan yang membuat hidupnya disukai makhluk dan diridhai Sang Pencipta.
“Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani)
Kebajikan tidak hanya menentukan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menentukan kualitas interaksi sosialnya. Orang yang hatinya baik tidak dikhianati oleh takdir — bahkan ketika ia jatuh, orang lain rela menopangnya; bahkan ketika ia miskin, orang lain tetap menghormatinya; bahkan ketika ia tiada, kebaikannya menjadi warisan yang tidak pernah membusuk. Begitu juga sebaliknya: orang yang kehilangan kebajikan kehilangan dukungan sosial, kehilangan kepercayaan, dan kehilangan nilai diri, meski hartanya masih melimpah.
Halaman berikut (2/10): “Mengapa Kebajikan Lebih Kuat Daripada Uang, Jabatan, dan Kepintaran.”
Kita akan membahas bagaimana kebajikan bekerja sebagai kekuatan sosial dan spiritual yang menentukan arah hidup seseorang.