Halaman 1 — Kesadaran yang Rapuh Politik Tanpa Pendidikan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Banyak orang bertanya mengapa demokrasi berjalan, tetapi kesadaran politik rakyat tampak rapuh. Pemilu berlangsung rutin, lembaga perwakilan tetap berdiri, namun partisipasi publik sering berhenti pada bilik suara. Di luar itu, rakyat tampak ragu, mudah terpolarisasi, dan cepat lelah menghadapi dinamika politik. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari satu persoalan mendasar: kegagalan pendidikan politik.
Pendidikan politik seharusnya menjadi proses pembentukan kesadaran warga tentang hak, kewajiban, serta relasi kekuasaan. Ia tidak berhenti pada pengetahuan prosedural, tetapi menumbuhkan kemampuan kritis untuk membaca kebijakan, memahami kepentingan, dan menilai dampak politik terhadap kehidupan sehari-hari. Ketika pendidikan politik gagal menjalankan fungsi ini, demokrasi kehilangan fondasi kesadarannya.
Kegagalan pendidikan politik sering disamarkan sebagai masalah rendahnya minat rakyat. Warga dianggap apatis, tidak peduli, atau kurang dewasa berdemokrasi. Penjelasan ini menyesatkan, karena mengalihkan perhatian dari tanggung jawab sistem dalam membangun kesadaran publik. Rakyat tidak lahir dengan kesadaran politik; ia dibentuk melalui pendidikan yang konsisten dan pengalaman partisipasi yang bermakna.
Dalam praktik, pendidikan politik sering direduksi menjadi sosialisasi teknis pemilu atau kampanye musiman. Warga diajarkan cara memilih, tetapi tidak dibekali pemahaman tentang bagaimana kebijakan disusun, bagaimana kekuasaan diawasi, dan bagaimana suara publik dapat terus diperjuangkan setelah pemilu selesai. Akibatnya, politik dipersepsikan sebagai peristiwa sesaat, bukan proses berkelanjutan.
Lemahnya pendidikan politik berdampak langsung pada kualitas kesadaran rakyat. Warga mudah terseret oleh narasi emosional, konflik identitas, dan informasi yang dangkal. Tanpa kerangka berpikir kritis, partisipasi politik berubah menjadi reaksi sesaat, bukan sikap sadar. Inilah salah satu akar mengapa kedaulatan rakyat sulit terwujud secara substantif.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya ilmu sebagai dasar tanggung jawab manusia:
Hal yastawī alladzīna ya‘lamūna walladzīna lā ya‘lamūn.
Artinya: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa kualitas peran sosial ditentukan oleh pengetahuan. Dalam konteks politik, rakyat yang tidak dibekali pendidikan politik yang memadai akan kesulitan menjalankan peran kedaulatannya. Kegagalan pendidikan politik dengan demikian bukan sekadar persoalan kurikulum, melainkan persoalan masa depan demokrasi.
Artikel ini akan membedah kegagalan pendidikan politik sebagai akar lemahnya kesadaran rakyat. Dengan pendekatan struktural dan sosial, pembahasan akan menunjukkan bagaimana pendidikan politik yang tidak kritis berkontribusi pada ketidakberdayaan rakyat, serta mengapa pemulihannya menjadi agenda mendesak bagi kedaulatan rakyat.
Halaman berikut (2/10):
“Apa Itu Pendidikan Politik dan Mengapa Penting.”
Kita akan mendefinisikan pendidikan politik
dan menempatkannya
sebagai fondasi kedaulatan rakyat.