Halaman 1 — Ilusi Kerumitan Saat yang Mudah Terlihat Sulit
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Pernah merasa sebuah masalah tampak begitu rumit, melelahkan, dan menyesakkan, tetapi setelah diselesaikan ternyata prosesnya sederhana? Fenomena ini sangat umum, namun jarang disadari. Banyak masalah dalam hidup sebenarnya tidak serumit yang kita bayangkan. Yang membuatnya terlihat sulit sering kali bukan masalah itu sendiri, melainkan cara pikiran kita membingkainya.
Pikiran manusia memiliki kecenderungan membesar-besarkan ketidakpastian. Ketika hasil belum jelas, otak mengisi kekosongan dengan skenario. Bukan satu skenario, melainkan puluhan kemungkinan, sebagian besar bersifat negatif. Akibatnya, masalah sederhana berubah menjadi beban mental yang terasa berat bahkan sebelum disentuh. Di sinilah ilusi kerumitan bekerja.
Orang waras menyadari satu hal penting: sulit dan mudah sering kali bukan sifat objektif dari masalah, melainkan persepsi. Mengirim pesan klarifikasi, memulai tugas kecil, atau mengambil satu keputusan tegas sering kali cukup untuk menyelesaikan persoalan. Namun karena pikiran dipenuhi asumsi, langkah sederhana itu tertunda, dan penundaan membuat masalah terlihat semakin besar.
Ilusi ini diperkuat oleh emosi. Takut salah membuat kita berhenti bergerak. Takut dinilai membuat kita menunda keputusan. Takut gagal membuat kita membangun narasi rumit sebagai alasan untuk tidak memulai. Padahal, ketika emosi dikelola, banyak masalah kehilangan kesan mengancamnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menyamakan “tidak nyaman” dengan “sulit”. Menghadapi percakapan jujur terasa tidak nyaman, lalu dilabeli sulit. Menutup kebiasaan boros terasa tidak nyaman, lalu dianggap rumit. Padahal, ketidaknyamanan hanyalah sinyal awal perubahan, bukan indikator tingkat kesulitan.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia diciptakan dengan kecenderungan tergesa-gesa dalam menilai keadaan.
Khuliqal-insānu min ‘ajal.
Artinya: “Manusia diciptakan bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 37)
Ketergesa-gesaan ini membuat pikiran melompat pada kesimpulan sebelum fakta lengkap. Masalah dinilai sulit bahkan sebelum dicoba. Orang waras melambatkan penilaian, bukan untuk menunda, tetapi untuk melihat dengan jernih.
Artikel ini akan mengajak pembaca membongkar ilusi kerumitan tersebut. Kita akan melihat bagaimana emosi, ego, dan kebiasaan berpikir tertentu membuat masalah tampak berat. Bukan untuk meremehkan masalah, melainkan untuk mengembalikannya ke ukuran yang semestinya.
Halaman berikut (2/10):
“Bagaimana Pikiran Membesar-besarkan Masalah.”
Kita akan membahas mekanisme mental
yang membuat hal sederhana terlihat rumit.