Halaman 1 — Kegelisahan Kekuasaan Saat Suara Sipil Tak Bisa Dibungkam
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim ‘alā Sayyidinā Muḥammad.
Ada satu pola yang berulang hampir di semua negara, lintas ideologi dan sistem pemerintahan: negara selalu tampak gelisah ketika LSM mulai berbicara terlalu lantang. Bukan ketika kritik datang dari oposisi resmi, bukan pula ketika keluhan muncul secara individual, tetapi justru ketika suara itu datang dari masyarakat sipil yang terorganisir, membawa data, laporan lapangan, dan keberanian moral.
Kegelisahan ini jarang diungkapkan secara terbuka. Ia hadir dalam bentuk bahasa yang lebih halus: imbauan stabilitas, tuduhan agenda tersembunyi, hingga kekhawatiran atas “kepentingan nasional”. Di permukaan, semua terdengar rasional. Namun di baliknya, ada satu ketakutan mendasar: pengawasan independen dapat membuka hal-hal yang selama ini disembunyikan.
Dalam teori politik, negara dibangun untuk mengelola kekuasaan secara sah. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kekuasaan yang terlalu lama berada dalam zona nyaman cenderung kehilangan kepekaan terhadap kritik. Ketika kebijakan disusun tertutup, dan evaluasi internal tidak lagi efektif, suara dari luar sistem menjadi gangguan yang sulit dikendalikan. Di titik inilah LSM hadir—bukan sebagai pesaing, melainkan sebagai cermin yang sering kali tidak disukai.
Wa lā taktumu syahādah, wa man yaktumhā fa innahū ātsimun qalbuh.
Artinya: “Dan janganlah kamu menyembunyikan kesaksian; barang siapa menyembunyikannya, maka sungguh, hatinya berdosa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 283)
Ayat ini menegaskan bahwa kesaksian sosial bukanlah ancaman, melainkan kewajiban moral. Ketika LSM menyampaikan temuan lapangan, mereka sedang menjalankan fungsi kesaksian tersebut. Namun bagi negara yang belum siap diawasi, kesaksian sering kali dibaca sebagai serangan. Di sinilah kegelisahan berubah menjadi resistensi.
Afdhalul-jihādi kalimatu ḥaqqin ‘inda sulṭānin jā’ir.
Artinya: “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini memperlihatkan bahwa kegelisahan penguasa bukan ukuran kebenaran kritik. Justru, kegelisahan sering muncul karena kebenaran menyentuh titik sensitif kekuasaan. Maka pertanyaan penting artikel ini menjadi jelas: apakah kegelisahan negara menandakan ancaman, atau justru bukti bahwa pengawasan masih bekerja?
Halaman-halaman berikut akan membedah mengapa kegelisahan ini terus berulang, bagaimana pola respons negara terbentuk, dan di mana posisi ideal LSM dalam menjaga agar kekuasaan tidak melampaui batas etisnya.
Halaman berikut (2/10): “LSM dan Ketakutan Kekuasaan: Akar Psikologis dan Politik.”
Kita akan menelusuri mengapa kritik sipil memicu kecemasan struktural,
bukan sekadar reaksi emosional sesaat.