Halaman 1 — Ketika Dunia Terlihat Tidak Adil Tapi Tuhan Sedang Menyiapkan Sesuatu
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allahumma ṣalli wa sallim wa bārik ʿalā Sayyidinā Muḥammad wa ʿalā ālihī wa ṣaḥbihī ajmaʿīn
Jujur saja — semua orang yang berusaha menjadi baik pasti pernah bertanya dalam hati: “Kenapa orang jahat justru terlihat menang? Kenapa yang curang dapat jalan cepat? Kenapa yang mengkhianati malah hidupnya seperti lancar?” Pertanyaan ini bukan tanda lemahnya iman, tapi tanda bahwa hati sedang mencari makna. Sebab bila dunia hanya menampilkan kemenangan bagi orang baik, maka kebajikan tidak akan punya nilai perjuangan. Kebajikan baru terasa berharga ketika ia dipilih meski dunia menawarkan hasil yang lebih cepat dengan cara yang salah.
Ada kalanya orang jahat berada di posisi atas bukan karena mereka hebat — tetapi karena hidup sedang membuka semua kartu mereka di depan umum. Allah tidak selalu menghukum seseorang dengan menurunkan hukumannya secara langsung. Kadang hukuman terbesar adalah ketika seseorang dibiarkan menang dalam keburukan sampai ia percaya bahwa ia akan lolos selamanya. Saat itu terjadi, ia akan semakin jauh, semakin berlebihan, semakin sombong — sampai akhirnya ia membangun kehancurannya sendiri. Kita hanya melihat permukaan: puncaknya. Kita tidak melihat fondasinya: rapuh.
Sementara yang baik, justru sering melalui jalan yang panjang. Hidup seperti menguji kesabaran, menguji ketulusan, menguji keteguhan. Bukan karena Tuhan tidak sayang — tapi karena Tuhan sedang membangun pribadi dan mental, bukan sekadar hasil. Sebab jika orang baik diberi kemenangan terlalu cepat, ia tidak akan kokoh. Tetapi jika ia ditempa dulu — disakiti, dicurangi, dikhianati, diremehkan — ia akan menang bukan hanya secara materi, tapi secara karakter. Ia akan menjadi pribadi yang tidak hanya berada di atas, tetapi layak berada di atas.
Makna ayat: “Allah tidak menyukai keburukan itu, namun Dia memberi waktu hingga keburukan itu mencapai batasnya, lalu dibalas dengan sempurna.” Artinya: kemenangan sementara bukan hadiah — kadang ia hanyalah jebakan takdir.
Karena itu, jangan tertipu oleh yang tampak. Hidup bukan sprint, tapi marathon. Yang licik bisa berlari cepat di awal, tapi tidak kuat bertahan lama. Yang jujur mungkin lambat di awal, tapi ia tidak kehilangan arah. Yang curang mengira kemenangan datang dari kelicikan, tapi tidak pernah sadar bahwa kemenangan sejati datang dari kedewasaan, kebijaksanaan, dan karakter. Ketika orang baik tampak “kalah,” itu bukan akhir — itu adalah fase pembentukan.
Halaman berikut (2/10): “Kemenangan Semu — Kenapa Keberhasilan yang Instan Sebenarnya Rapuh.”
Kita akan mengurai bagaimana “kemenangan cepat” justru sering menjadi awal kejatuhan bagi orang yang curang.