Kenapa Programmer Pintar Justru Lebih Banyak Bertanya

Halaman 1 — Paradoks Kepintaran Mengapa yang Paham Justru Bertanya


Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

Ada satu fenomena menarik di dunia pemrograman yang sering disalahpahami: programmer yang benar-benar pintar justru lebih sering bertanya. Bukan bertanya karena tidak tahu apa-apa, tetapi karena sadar betapa banyak hal yang belum ia pahami sepenuhnya. Di sinilah paradoks kepintaran muncul.

Sebaliknya, programmer yang jarang bertanya sering kali terlihat percaya diri. Semua dijawab cepat, semua diasumsikan beres. Namun di balik itu, tersembunyi bahaya besar: asumsi yang tidak diuji. Dunia software tidak menghukum orang yang banyak bertanya, tetapi menghukum orang yang sok tahu.

Programmer pintar memahami bahwa setiap sistem lebih kompleks dari yang terlihat. Dokumentasi tidak selalu lengkap, konteks bisnis berubah, dan edge case selalu mengintai. Bertanya bukan tanda kelemahan, melainkan alat navigasi. Dengan bertanya, mereka memperkecil risiko salah arah sebelum menulis terlalu banyak kode.

Bertanya juga merupakan bentuk kejujuran intelektual. Ia mengakui keterbatasan pengetahuan, tanpa menjatuhkan harga diri. Dalam budaya tim yang sehat, pertanyaan dianggap investasi, bukan gangguan. Setiap pertanyaan yang tepat bisa menyelamatkan jam kerja, energi, bahkan reputasi proyek.

Di era AI, kebiasaan bertanya menjadi semakin penting. AI bisa menjawab apa saja, tetapi kualitas jawaban sangat ditentukan oleh kualitas pertanyaan. Programmer yang pintar tidak sekadar meminta solusi, tetapi mengajukan pertanyaan yang membongkar asumsi dan memperjelas konteks.

Bertanya, dalam konteks ini, bukan mencari jawaban cepat. Ia adalah proses berpikir. Dengan bertanya, programmer memaksa dirinya memahami masalah lebih dalam sebelum bertindak. Inilah kebiasaan yang membedakan antara reaksi spontan dan keputusan matang.

Sikap ini sejalan dengan dorongan untuk terus mencari kejelasan sebelum melangkah.

Fa’s’alū ahlaż-żikri in kuntum lā ta‘lamūn.

Artinya: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Naḥl [16]: 43)

Ayat ini menegaskan bahwa bertanya adalah jalan ilmu, bukan tanda kebodohan. Dalam dunia pemrograman, prinsip ini relevan sepenuhnya. Bertanya dengan tepat adalah bentuk tanggung jawab intelektual.

Maka pertanyaannya bukan lagi “kenapa dia banyak bertanya,” tetapi “kenapa saya terlalu cepat merasa tahu.” Dari sinilah perjalanan menjadi programmer dewasa benar-benar dimulai.

🌿 Bertanya adalah tanda pikiran yang sadar akan batasnya.

Halaman berikut (2/10): “Asumsi Adalah Musuh Diam-diam Programmer.”
Kita akan membahas bagaimana asumsi yang tidak dipertanyakan justru menjadi sumber kesalahan paling mahal.