Halaman 1 — Ketakutan di Balik Serangan Membaca Reaksi terhadap Kritik
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Setiap kali LSM bersuara keras, hampir selalu ada reaksi yang sama: serangan balik. Mereka dituduh mencari panggung, dituding membawa agenda tersembunyi, bahkan tidak jarang dicap sebagai musuh pembangunan. Namun pertanyaan yang lebih mendasar jarang diajukan: jika LSM hanya menyampaikan data dan kritik, mengapa reaksi yang muncul begitu emosional? Apa yang sebenarnya ditakuti?
Artikel ini disusun menggunakan pendekatan penelitian pustaka terhadap teori kekuasaan, psikologi politik, dan dinamika masyarakat sipil, serta refleksi lapangan atas berbagai kasus konflik advokasi publik di Indonesia. Fokus utama halaman ini adalah membongkar dimensi psikologis dan struktural di balik serangan terhadap LSM. Sebab dalam banyak peristiwa, respons agresif terhadap kritik bukan sekadar pembelaan diri, melainkan indikator adanya ketakutan yang lebih dalam.
Dalam teori legitimasi politik, kekuasaan bertumpu pada persepsi publik tentang keabsahan. Ketika LSM menghadirkan data yang mempertanyakan kebijakan atau mengungkap dugaan penyimpangan, yang terancam bukan hanya citra individu, tetapi legitimasi institusi. Ketakutan terbesar bukan pada kritik itu sendiri, melainkan pada kemungkinan runtuhnya kepercayaan publik.
Reaksi defensif sering kali menjadi tanda bahwa kritik menyentuh titik sensitif. Jika sebuah laporan tidak berdampak, biasanya ia diabaikan. Namun ketika laporan itu segera diserang, dibantah tanpa klarifikasi substansial, atau pembawanya didiskreditkan, hal itu justru menunjukkan bahwa kritik tersebut memiliki daya ganggu yang nyata.
Al-Qur’an memberikan gambaran tentang respons manusia ketika kebenaran mengancam kepentingannya:
Bal kānū bi mā lam yuḥīṭū bi ‘ilmihi wa lammā ya’tihim ta’wīluh.
Artinya: “Sebenarnya mereka mendustakan apa yang belum mereka pahami ilmunya dan belum datang kepada mereka penjelasannya.” (QS. Yūnus [10]: 39)
Ayat ini menunjukkan bahwa penolakan sering lahir bukan karena kebenaran itu salah, tetapi karena ia belum atau tidak ingin dipahami. Dalam konteks sosial-politik, ketakutan bisa muncul dari dua hal: ketakutan kehilangan kekuasaan atau ketakutan kehilangan narasi dominan.
Maka ketika LSM diserang, mungkin yang sebenarnya dipertaruhkan bukan stabilitas negara, melainkan stabilitas persepsi. Kebenaran yang dibawa mungkin terlalu terang, terlalu rinci, atau terlalu dekat dengan kepentingan tertentu. Serangan menjadi cara tercepat untuk meredam efeknya.
Pertanyaannya kini bergeser: apakah kita melihat serangan terhadap LSM sebagai bukti kesalahan mereka, atau sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang sedang diungkap? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami lebih dalam relasi antara kekuasaan, ketakutan, dan kontrol atas informasi.
Halaman berikut (2/10): “Legitimasi dan Rasa Takut Kehilangan Kendali.”