Halaman 1 — Di Tengah Keletihan Ada yang Tetap Bertahan
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
Ada masa ketika rakyat merasa lelah. Lelah menghadapi birokrasi yang lambat, kebijakan yang terasa jauh dari kebutuhan, serta janji-janji yang berulang tanpa perubahan nyata. Keletihan itu bukan sekadar emosional, tetapi sosial—lahir dari pengalaman panjang yang tidak selalu menemukan solusi. Dalam kondisi seperti ini, banyak yang memilih diam. Namun di tengah keheningan tersebut, masih ada pihak yang tetap berdiri dan bersuara: Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Dalam perspektif penelitian sosial, kelelahan kolektif dapat terjadi ketika partisipasi publik tidak menghasilkan dampak yang signifikan. Teori partisipasi politik menyebutkan bahwa ketika aspirasi tidak terakomodasi, kepercayaan publik terhadap sistem dapat menurun. Fenomena ini sering disebut sebagai political fatigue. Dalam situasi demikian, peran masyarakat sipil menjadi krusial sebagai jembatan antara keluhan warga dan struktur kekuasaan.
LSM hadir bukan sebagai pengganti rakyat, melainkan sebagai perpanjangan suara mereka. Melalui penelitian lapangan, dokumentasi, serta advokasi berbasis regulasi, organisasi ini mencoba menjaga agar isu yang terabaikan tetap mendapatkan perhatian. Tentu, tidak semua advokasi langsung membuahkan hasil. Namun konsistensi dalam menyuarakan fakta menjadi bagian penting dari proses demokrasi.
Faṣbir kamā ṣabara ulul-‘azmi minar-rusul.
Artinya: “Maka bersabarlah engkau sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati.” (QS. Al-Aḥqāf [46]: 35)
Ayat tersebut menekankan pentingnya keteguhan dalam menghadapi tantangan. Dalam konteks advokasi sosial, keteguhan berarti tetap bekerja meskipun respons publik melemah atau resistensi meningkat. Kesabaran bukan berarti pasif, melainkan konsisten dalam menjalankan prinsip.
Artikel ini akan mengkaji secara ilmiah bagaimana LSM berperan ketika partisipasi masyarakat mengalami kelelahan. Melalui pendekatan analisis sosial dan normatif, kita akan menelusuri faktor penyebab keletihan publik, strategi advokasi yang dilakukan, serta tantangan yang dihadapi organisasi masyarakat sipil dalam menjaga keberlanjutan suara rakyat.
Ketika rakyat merasa lelah, demokrasi diuji. Bukan hanya oleh kebijakan yang ada, tetapi oleh kemampuan sistem untuk tetap menyediakan ruang partisipasi. Dan di tengah ruang yang kadang menyempit itu, keberadaan LSM menjadi salah satu penopang agar suara kolektif tidak benar-benar hilang.
Halaman berikut (2/10): “Mengapa Rakyat Bisa Lelah?”
Kita akan menelusuri akar sosiologis dan politik dari keletihan partisipasi publik.